Dihya's Blog

Menjalin Silaturrahmi dan Komunikasi

Opini

Kiranya semua sepakat kalau dunia yang kita tempati ini sangatlah luas dan komplek. Tetapi berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dunia yang luas dan komplek ini seperti menyempit dan menjadi sederhana. Tidak hanya itu, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga mampu membuat melek setiap orang bahwa mereka adalah warga dunia, bukan hanya warga Desa, warga Kecamatan, warga Kabupaten, warga Propinsi dan warga suatu Negara semata, tetapi lebih jauh mereka adalah warga dunia ini. Kesadaran ini perlu dipupuk dan di kembangkan dalam diri kita, agar kita terpacu untuk memahami dunia kita ini, sebab tanpa memahami dunia kita ini, mungkin kita akan terseret dan tersesat oleh arus globalisasi yang begitu deras. Kesadaran ini juga berpengaruh terhadap cara pandang kita, cara pandang yang asalnya mungkin sempit, berubah menjadi cara pandang yang luas dan bijak, bahkan mungkin akhirnya mampu mengolah dan memanfaatkan dunia kita ini bagi kesejahteraan manusia. Sehingga dalam berpikir, berucap dan bertindak selalu menunjukkan dan mencerminkan adanya kepedulian, kepentingan dan kemanfaatan bagi warga se-Desa, se-Kecamatan, se-Kabupaten, se-Propinsi, se-Negara dan se-dunia kita ini.

Dalam hal ini agama Islam banyak berpesan terhadap pemeluk-pemeluknya yang diantaranya adalah sebagai berikut,

  • Agar memenuhi kewajibannya dan memperhatikan hak orang lain dalam berukhuwwah, baik ukhuwwah islamiyyah, ukhuwwah wathoniyyah maupun ukhuwwah basyariyyah.
  • Agar berlombah-lombah dalam bertindak kebaikan.
  • Agar menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Dari tiga pesan singkat ini saja menunjukkan bahwa agama Islam menganjurkan pemeluknya agar memahami dan peduli terhadap keadaan yang timbul atau terjadi di dunia ini dan peduli dengan kehidupan manusia secara umum, baik secara individual, berkelompok ataupun dalam bernegara.

Sebagai orang Islam tentu sering kita dengar kata “Islam adalah Rahmat bagi alam semesta”, rasanya kata ini tidak akan teraktualisasi kalau pemeluknya terkesan cuek dengan keadaan yang ada di alam semesta ini, apalagi sampai merem (baca: tidak peduli) dan hanya mengurusi diri pribadi dan keluarganya saja, tidak mau berlombah dan saling bahu membahu dengan orang lain dalam berkreasi dan berkarya demi kesejahteraan dan keselamatan bersama. Parahnya lagi, sudah cuek bin merem, malah sering meresahkan dan berbuat onar ditengah-tengah masyarakat. Contohnya banyak sekali diantaranya, para teroris, para penjajah, para koruptor, perampok, penyamun, pemabuk, pengganggu keharmonisan keluarga, tukang selingkuh, pembuat benda-benda atau barang-barang palsu yang berbahaya, dan makanan-makanan yang membahayakan kesehatan.

Orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang tidak bisa berterima kasih kepada orang lain “man lam yasykurinnas lam yasyjurilllah” (Orang yang tidak bisa berterima kasih terhadap manusia, maka ia pun tak akan mampu untuk berterima kasih terhadap tuhannya). Padahal semenjak kecil hingga mati, mereka selalu butuh perhatian orang lain, butuh peran orang lain, tapi sayang mereka tidak menyadari itu, sehingga dalam hidupnya hanya membuat resah masyarakat dengan tindakan-tindakannya, dengan ocehannya, dengan terornya, dengan bomnya, dengan tabung-tabung gasnya yang palsu, dengan makanan-makanannya yang membahayakan, na’udzu billahi min dzalik.

Sudah menjadi keharusan bagi kita untuk menyumbangkan kebisaan, kelebihan dan kemampuan kita untuk kenyamanan, kesejahteraan dan keselamatan hidup keluarga kita, tetangga kita, kalau bisa se-Negara dan bahkan se-Dunia Kita “sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lain”. Tentunya setiap kita ada yang lebih dari sebagiannya, hendaknya kita berperan dalam derama kehidupan ini sebagai pemeran sesuai dengan kebisaan dan kemampuan kita, yang terpenting jangan pernah menyerah dan berhenti dalam berkreasi dan berkarya untuk dunia kita demi kebahagiaan kita kelak di akhirat. Salam kenal untuk semua ……………..  Wallahu A’lam bis Showab.