Pengertian Ahlussunnal wal Jama’ah

HaulAhlun bermakna Keluarga, seperti dalam kata (اَهْلُ الْبَيْت) keluarga dalam rumah tangga. Pengikut, seperti (اَهْلُ السُّنَّة) pengikut sunnah. Penduduk seperti kata (اَهْلُ الْجَنَّةِ) penduduk surga. Sedangkan As-sunnah, Hadlrotus Syaikh Muhammad Hasim Asy’ari dalam Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah mengatakan, Assunnah Menurut bahasa berarti Jejak atau jalan walaupun tidak di ridloi oleh Allah. Secara syar’i: Baca lebih lanjut

Pengaruh Iman Dalam Kehidupan

Iman kepada Allah Ta’ala adalah pedoman dari kehidupan rohaniah, sumber ketenangan dan ketenteraman diri serta langkah awal dari semua bentuk kebahagiaan. Iman merupakan sebuah keyakinan yang muncul dari pemahaman diri tentang alam beserta isinya yang berkaitan dengan kebesaran Sang Khaliq. Tanda-tanda keimanan dalam diri seseorang dapat  terlihat dari amal perbuatan yang dikerjakan, karena kepribadian diri seseorang  merupakan pancaran dari iman yang ada di dalam diri seseorang. Seseorang dikatakan beriman dengan sebenar-benarnya iman adalah jika ia berbuat kebajikan dan Baca Selanjutnya

Acara Mitung Ndino Tradisi Para Sahabat Nabi Saw

Acara mitung ndino atau acara tujuh hari dari kematian, biasanya di adakan acara yasinan atau tahlilan setiap malam dari hari pertama kematian seseorang sampai selama tujuh hari berturut-turut. Menurut cerita, di Indonesia dulu sebelum masuknya agama Islam banyak sekali orang-orang yang mempercayai bahwa pada hari pertama sampai ke tujuh, roh-roh orang yang mati akan mengganggu orang kampung, maka untuk mengusir roh-roh yang mengganggu tersebut, mereka berkumpul dirumah si mati pada hari-hari tersebut, membuat sesajen dan membacakan mantera-mantera. Setelah Islam datang, tradisi tersebut oleh para Wali Songo digunakan sebagai alat dakwah. Tradisi tersebut tetap dibiarkan ada dan Baca Selengkapnya

Kontroversi Bid’ah Dzikro Maulidir Rasul saw

Menurut Imam Suyuthi, tercatat sebagai raja pertama yang memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw dengan perayaan yang meriah luar biasa adalah raja AlMudzoffar Abu Said Kakabri Ibnu Zainuddin Ali bin Baktakin (549-630 H). Tidak kurang dari 300.000 dinar beliau keluarkan dengan ikhlas untuk bersedekah pada hari peringatan mauled ini. Intinya menghimpun semangat juang dan persatuan umat Islam dengan membacakan karya sastra, baik berupa natsar (prosa) atau nadzom (puisi) yang menceritakan kisah kelahiran dan kehidupan Rasulullah saw. Maka sejak itulah tumbuh tradisi dzikro maulidir Rasul saw di hampir seluruh Negara Islam. Inilah sebabnya mengapa ada sebagian golongan dalam Islam yang mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi adalah bid’ah, karena tidak pernah ada di zaman Nabi, sahabat atau kurun salaf, kata mereka. Baca Selanjutnya