17Di sebuah desa (di daerah bagian Bumimaya) yang jauh dari hiruk pikuk persaingan ekonomi dan laju tranformasi budaya, ada seorang veteran (dulu prajurit kemerdekaan) yang terpaksa melepas gelarnya sebagai veteran dan tidak mau lagi menerima bisyaroh (gaji) dari keveterannya karena dia merasa tidak berhasil mendidik cucu-cucunya untuk mencintai tanah air. Patriotisme dan nasionalisme yang sejak kecil mendarah daging, menyatu paduh dengan jiwanya, membuatnya merasa hina dan tak berarti lagi karena cucu-cucunya tidak bisa lagi menghormati para syuhada’ kemerdekaan. Bahkan dia merasa menjadi sampah tak berharga melihat sepak terjang cucu-cucunya yang tidak lagi mempunyai jiwa nasionalisme.

Di depan Photo Bung Karno air matanya menetes deras membasahi pipinya yang kurus, kering dan keriput. “BUNG…. sebenarnya aku malu sekali menatap photomu karena ulah cucu-cucuku, aku tak bisa lagi berlama-lama duduk memandangi dan bercengkerama denganmu, aku malu, aku minta maaf kepadamu karena tidak bisa mewariskan patriotisme dan nasionalisme kepada cucu-cucuku”. Usai berkata itu, Sang Pejuang itu melepas satu demi satu baju yang selama ini membuatnya bangga, atribut-atribut yang selama ini membuatnya merasa dekat dengan syuhada’-syuhada’ kemerdekaan yang telah lama mendahuluinya menghadap sang kuasa.

Ya Allah….. (lanjut orang tua itu) mengapa engkau beri aku umur yang panjang jika harus melihat ulah cucu-cucuku yang tidak bisa menghormati tanah airnya, tidak bisa menghormati para pejuang dan syuhada’-syuhada’ kemerdekaan, tidak bisa memahami arti SANG SAKA MERAH PUTIH yang dulu sering aku cium dan aku peluk bersama sahabat-sahabatku. Ya Allah….. Ampuni aku, buka-lah hati dan pikiran cucu-cucuku agar mampu memahami betapa berartinya Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 bagi kakeknya dan bangsa ini. Harta tak lagi berharga, tenaga dan pikiran harus tercurah, darah tertumpah mengalir hanya demi satu tujuan MERDEKA ATAU MATI. Maafkan aku Ya Allah…. Ampuni aku Ya Rabb….

Selesai berdo’a kakek itu tersenyum dan terkulai di kursi tuanya yang sudah sejak lama dia pakai duduk MENGENANG DAN memandang photo Bung Karno dan sahabat-sahabatnya waktu itu.

Tidak lama setelah itu, di sepanjang jalan dari rumahnya sampai tanah pemakaman, terdengar tangisan keluarga, cucu-cucunya dan tetangga kanan kirinya. SANG KAKEK, SANG PEJUANG telah berpulang kepelukan SANG KUASA, SANG MAHA BIJAKSANA. Selamat jalan wahai pahlawan kami, semoga dosa-dosamu di ampuni oleh Allah dan kebaikanmu di lipat gandakan pahalanya, semoga Engkau menemukan kebahagiaan hakiki di sisi Allah. Aamiin….

Edisi Kemerdekaan 2015