16Masyarakat Bumimaya sangat majemuk, banyak agama dan kepercayaan di sana, setidaknya ada 6 Agama dan beberapa kepercayaan. Sebagai penguasa di bumi yang beraneka macam agama dan kepercayaan itu, saya tidak berhak dan bukan kapasitas saya menjastis agama atau kepercayaan apa yang benar. Saya hanya berkewajiban memperhatikan dan memberikan hak-hak masing-masing pemeluk agama di Bumimaya, agar bisa aman melakukan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing, sesuai undang-undang yang berlaku turun temurun di Bumimaya. Walhasil, pada suatu hari ada keributan di suatu daerah di Bumimaya yang di picu oleh omongan anak muda yang cukup terpandang, kalau Semua Agama Sama, Semua Agama Benar. Ada sebagian kecil warga yang menganggap bahwa omongan itulah yang benar, sedangkan bagi sebagian banyak warga, menganggap omongan itu salah dan ngaco. Sebagai penguasa saya di tuntut harus bisa menyelesaikan keributan itu, bukan menentukan agama atau kepercayaan apa yang benar dan yang salah, maka pihak-pihak yang berperkara itu saya datangkan dan saya introgasi.

  • Saya : Dul !. Benarkah kamu pernah mengatakan kalau semua agama itu sama, semua agama benar?
  • Dul : Ya Kang.
  • Saya : Apa alasanmu ngomong seperti itu?
  • Dul : Karena saya hidup di Bumimaya Kang.
  • Saya : Maksudmu???
  • Dul : Dalam kontek ke-Bumimaya-an omongan yang mengatakan bahwa semua agama itu sama, memang seperti itu adanya. Kang Mahfudz tentunya lebih tahu tentang undang-undang di Bumimaya, bahwa Bumimaya menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Artinya bahwa setiap agama yang dipeluk oleh warga Bumimaya itu sama di mata undang-undang Bumimaya. Begitu Kang.
  • Saya : Ya… memang seperti itu. Katamu juga semua agama itu benar?
  • Dul : Ya iya-lah Kang, benar menurut pemeluknya masing-masing.
  • Saya : Oooo….

Baru saja saya selesai ngomong Oooo… Tiba-tiba terdengar celetukan salah seorang warga daerah itu “ Ala Dul… Dul… Iku kan perkoro ma’lum, ngopo mbok omong-omongke, nggarahi fitnah ae”. Saya hanya tersenyum mendengarkan celetukan itu.