12Di bumi Maya, yaitu daerah kekuasaan saya sendiri pernah terjadi masalah yang sangat serius, sehingga Saya sendiri yang harus turun tangan untuk menyelesaikannya. Ada seorang ayah yang umurnya sekitar 55 – 60 tahun, melaporkan anak kandungnya sendiri karena telah berselingkuh dengan istri mudahnya.

  • Ayah : Kang Mahfudz (itulah panggilan akrab saya di bumi maya)
  • Saya : Ada apa?
  • Ayah : Saya melaporkan anak saya sendiri yang telah menyelingkuhi istri mudah saya yang sama sekali belum saya jamah, karena setelah menikah saya langsung pergi ke luar negeri. Ada tugas yang harus saya selesaikan. Saya mohon Kang Mahfudz menerima laporan saya dan menggantung anak durhaka itu.
  • Saya : Ya…ya… saya terima laporannya. Persoalan gantung menggantung itu perlu kita selesaikan terlebih dahulu, Mana anak bapak ini? Lanjut saya.
  • Tiba-tiba muncul seorang pemuda ganteng, putih, polos, dan sepertinya tidak begitu lengkap. Sambil mengacungkan tangan ia berkata “saya”.
  • Saya : Coba ceritakan asal muasalnya sampai hal ini terjadi. Tanya saya terhadap si Anak tersebut).
  • Anak : Begini ceritanya : “setelah menikah, ayah saya terus pergi keluar negeri, tapi sebelum pergi beliau sempat berpesan kepada saya, begini pesannya “Nak. Kamu adalah anak tertua, jadi kamu adalah pengganti ayah, semua yang ada di rumah ini sekarang menjadi tanggungjawab kamu”. Dan semua omongan ayah ini di saksikan oleh seluruh anggota keluarga, tidak terkecuali istri mudah ayahku yang memikat itu. Anak itu menutup ceritannya.
  • Saya : Oooo… Jadi kamu anak tertua bapak ini?
  • Anak : ya
  • Saya : Terus apa hubungan ceritamu tadi dengan tuduhan ayahmu?
  • Anak : Dalam cerita tadi kan sudah tak sebutin asal muasalnya Kang.
  • Saya : yang Mana?
  • Anak : “Nak. Kamu adalah anak tertua, jadi kamu adalah pengganti ayah”. Kata istri mudah ayah, -lanjut anak itu- karena saya pengganti ayah jadi saya berhak juga seperti ayah berselancar dengan istri mudahnya ke dunia yang lebih indah dari bumi maya ini.
  • Saya : Ups…!!!

Setiap orang mungkin punya jodohnya masing-masing, namun tidak setiap kepala keluarga mampu memimpin dengan baik. Begitupun tidak setiap orang yang mampu memimpin dengan baik juga mampu memilih penggantinya, yang mampu memimpin dengan baik pula. Pertanyaannya sekarang, siapakah yang pantas di salahkan dalam kasus seperti di atas, Ayahnya-kah, yang memberikan kekuasaannya kepada anak yang dianggapnya sebagai anak yang tertua??? Atau anaknya-kah, yang salah dalam menafsirkan pernyataan ayahnya karena pengaruh orang lain???