Sejak awal lahir dan berkembang, aliran teologi wahabi banyak menimbulkan kerusakan dan pembunuhan dimana-mana. Sekarang ini masih mendingan, mereka hanya santer gembar-gemborkan vonis kafir, vonis bid’ah dan khurofat tanpa disertai dengan tindakan-tindakan anarkhis, seperti membunuh, membungkar kuburan dan merusak tempat-tempat bersejarah. Sebab menurut mereka, orang-orang yang menyembah selain Allah swt halal darahnya, termasuk orang-orang islam yang ziarah kekubur, orang-orang yang bertawassul kepada para Nabi, para Wali dan para Ulama’us sholihin, menurut mereka adalah orang-orang yang boleh dibunuh karena telah meminta pertolongan kepada selain Allah swt dan telah musyrik.

{Muhamad bin Abdul Wahhab mengatakan, bahwa tauhid itu terbagi dua macam yaitu; Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah. Mengenai tauhid rububiyyah, baik orang muslim maupun orang kafir mengakui itu. Sedangkan tauhid uluhiyyah, adalah tauhid yang membedakan antara kufur dan Islam. Hendaknya setiap Muslim dapat membedakan antara kedua jenis tauhid ini, dan mengetahui bahwa orang-orang kafir tidak mengingkari Allah swt. sebagai Pencipta, Pemberi rezeki dan Pengatur. Sebagaimana firman Allah swt   “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan’? Tentu mereka akan menjawab, ’Allah’, maka betapakah mereka dapat dipalingkan (dari jalan yang benar)”. (S. Al ‘Ankabut, 61). Selanjutnya Ibnu Abdul Wahhab berkata, “Jika telah terbukti bagi anda bahwa orang-orang kafir mengakui yang demikian, niscaya anda mengetahui bahwa perkataan anda, “Sesungguhnya tidak ada yang menciptakan dan tidak ada yang memberi rezeki kecuali Allah, serta tidak ada yang mengatur urusan kecuali Allah”, belumlah menjadikan diri anda muslim sampai anda mengatakan, ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’ dengan disertai melaksanakan artinya. Kata Ibnu Abdul Wahhab lagi, “Sesungguhnya orang-orang musyrik zaman kita, yaitu orang-orang muslim yang bertawassul kepada Rasulallah saw dan Ahlul Bait, atau menziarahi kuburan mereka, maka dia itu kafir dan musyrik, bahkan kemusyrikannya jauh lebih besar daripada kemusyrikan para penyembah Lata, ‘Uzza, Mana dan Hubal. Kemusyrikannya lebih keras dibandingkan orang-orang musyrik yang pertama. Karena, orang-orang musyrik zaman dahulu (yang pertama), mereka hanya menyekutukan Allah disaat lapang, sementara disaat genting mereka mentauhidkan-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah swt, “Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai kedarat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukanNya} (A. Sihabuddin. Siapakah gol Wahabi/Salafi)

Perinsip tauhid yang salah kaprah seperti ini, dapat dan telah membentuk perangai sangar dan garang sekaligus menyulap pengikut dan pemuja Muhammad bin Abdul Wahab ini menjadi kumpulan orang-orang yang berdarah dingin. Pada tahun 1802, mereka menyerang Karbala karena terdapat makam Sibthun Nabi Husain bin Ali bin Abi Tholib yang sering dikunjungi oleh orang-orang syi’ah. Beberapa tahun kemudian mereka menyerang Madinah dan menghancurkan kubah-kubah yang ada di atas kuburan-kuburan, bahkan hiasan-hiasan yang ada di makam Rasulullah saw juga tidak luput dari kehancuran. Dari Madinah mereka terus menyerang Makkah dan merusak kiswah sutra yang menutup ka’bah, karena semua itu mereka anggap bid’ah dan syirik, bahkan sering mereka mengatakan dalam setiap agresinya, “Masuklah kedalam ajaran Wahabi. Dan jika tidak, niscaya anda terbunuh, istri anda menjadi janda, dan anak anda menjadi yatim”.

Setelah tahun-tahun berlalu, para pengikut golongan Wahabi ramai-ramai menolak dijuluki Wahabiyyah, dan mereka memproklamirkan diri sebagai Golongan Al-Muwahhidun atau Golongan Salafiyyah (penganut Salafus-Sholeh), karena menurut mereka, golongan merekalah yang mengembalikan ajaran-ajaran tauhid kedalam Islam dan kehidupan murni menurut sunnah Rasulullah saw. Tetapi sayangnya perubahan nama itu tidak mereka sertai dengan perbaikan ajaran-ajaran teologinya, mereka tetap saja tidak segan-segan menghukumi syirik dan kafir terhadap orang-orang islam yang tidak sepaham dengan mereka. Padahal Rasulullah saw sendiri, yang langsung membawa ajaran islam dari Allah swt kepada umatnya, tidaklah seperti itu. Bahkan Rasulullah seperti wanti-wanti kepada kita agar tidak mudah menuduh kafir terhadap saudara-saudara kita orang islam. Sebagaimana sabda beliau saw,

إذا قال الرجل لأخيه, “ياكافر” فقد باء بها أحدهما فإن كان كما قال, وإلا رجعت عليه. رواه مسلم

Artinya, Apabila seseorang berkata kepada saudaranya (sesama muslim) “Wahai Kafir”, maka sungguh dia telah menetapkan dengan ucapannya itu salah seorang daripadanya menjadi kafir, kalau tuduhannya itu benar. Akan tetapi jika tuduhannya itu tidak benar, maka tuduhan itu kembali kepadanya. (HR. Muslim).

Seyogyanya dan semestinya sikap seorang muslim sejati, berhati-hati dalam setiap tingkah laku dan ucapannya, serta tidak mudah melempar tuduhan kafir, syirik dan bid’ah terhadap oarng-orang yang meyakini bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Wa Allohu A’lam Syaikh.