Kontroversi Bid’ah Dzikro Maulidir Rasul saw

Standar

Menurut Imam Suyuthi, tercatat sebagai raja pertama yang memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw dengan perayaan yang meriah luar biasa adalah raja AlMudzoffar Abu Said Kakabri Ibnu Zainuddin Ali bin Baktakin (549-630 H). Tidak kurang dari 300.000 dinar beliau keluarkan dengan ikhlas untuk bersedekah pada hari peringatan mauled ini. Intinya menghimpun semangat juang dan persatuan umat Islam dengan membacakan karya sastra, baik berupa natsar (prosa) atau nadzom (puisi) yang menceritakan kisah kelahiran dan kehidupan Rasulullah saw. Maka sejak itulah tumbuh tradisi dzikro maulidir Rasul saw di hampir seluruh Negara Islam. Inilah sebabnya mengapa ada sebagian golongan dalam Islam yang mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi adalah bid’ah, karena tidak pernah ada di zaman Nabi, sahabat atau kurun salaf, kata mereka.

Pendapat ini muncul karena ketidak fahaman mereka tentang bagaimana cara mengeluarkan hokum (istimbat) dari Al-Quran dan as-Sunah. Sesuatu yang tidak dilakukan Nabi atau Sahabat, dalam term ulama usul fiqih disebut attark. Sedangkan attark tidak boleh diklaim sebagai larangan atau kwajiban, maka menurut ulama ushul fiqih hal tersebut tidak bisa dijadikan dalil, baik untuk melarang atau mewajibkan, apalagi menyesat-nyesatkan orang lain. Sebagaimana diketahui pengertian as-Sunah adalah perkatakaan, perbuatan dan persetujuan beliau. Adapun at-tark tidak masuk di dalamnya. Sesuatu yang ditinggalkan Nabi atau sohabat mempunyai banyak kemungkinan, sehingga tidak bisa langsung diputuskan hal itu adalah haram atau wajib, apalagi bid’ah yang sesat.

Dengan demikian peryataan bahwa perayaan maulid Nabi adalah amalan bid’ah adalah pernyataan yang sangat tidak tepat, karena bid’ah adalah sesuatu yang baru atau diada-adakan dalam Islam yang tidak ada landasan sama sekali dari Al-Qur’an dan as-Sunah. Sedangkan maulid  walaupun sesuatu yang baru di dalam Islam, akan tetapi memiliki landasan dan dasar hokum yang kuat dari Al-Qur’an dan as-Sunah.

Banyak sekali nilai ketaatan yang terkandung didalamnya, seperti, membaca dan mendengarkan bacaan Al-Quran, bersodaqoh, mendengarkan mauidhoh hasanah atau menuntut ilmu, mendengarkan kembali sejarah dan keteladanan Nabi, dan membaca sholawat yang kesemuanya telah dimaklumi bersama bahwa hal tersebut sangat dianjurkan oleh agama dan ada dalilnya di dalam Al-Qur’an dan as-Sunah. Lebih dari itu, kelahiran Rasulullah saw adalah anugrah yang agung sekaligus rahmat dari Allah untuk kita, yang selayaknya harus bergembira dan mensyukurinya. Allah berfirman.

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا, هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ .

Katakanlah, Dengan anugrah Allah dan rahmatnya hendaknya dengan itu mereka bergembira. Anugrah dan rahmat Allah itu lebih bagus dari apa yang mereka kumpulkan. (QS. Yunus 58)

Selain itu acara peringatan mauled Nabi Muhammad saw dimaksudkan  untuk mengenang kembali kelahiran, kehidupan, perjuangan, kesabaran, akhlaq dan kemuliaan pribadi beliau dan lain-lain, seperti cara beliau tunduk dan patuh dihadapan Allah, kasih sayang dan kebijakan beliau terhadap keluarga, sahabat dan masyarakat baik itu muslim atau non muslim, agar kita dapat meneladani beliau, sebab dengan seringnya kita baca dan mendengar cerita-cerita beliau tidak ayal kita akan mengagumi, mencintai dan mengidolakan beliau sehingga akhirnya kita dapat meneladani beliau. Allah berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِىْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُوْا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا .

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-ahzab 21).

Wallahu a’lam.

Iklan

2 thoughts on “Kontroversi Bid’ah Dzikro Maulidir Rasul saw

  1. ahmad busyairi

    SEJARAH MAULID

    Firman Allah SWT : “ Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatan nya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkan nya sesat).Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” ( QS.al-Jatsiyah : 23 )

    Allah taala berfirman:
    ” Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” Q.S. Al Maidah: 3 ).

    Sejarah Peringatan Maulid Nabi
    Seluruh ulama sepakat bahwa maulid Nabi tidak pernah diperingati pada masa Nabi shallallahu `alaihi wasallam hidup dan tidak juga pada masa pemerintahan khulafaur rasyidin ( para sahabat nabi ) . Lalu kapan dimulainya peringatan maulid Nabi dan siapa yang pertama kali mengadakannya?

    a.Sejarah Peringatan Mualid
    Al- Maqrizy (seorang ahli sejarah islam) dalam bukunya “Al khutath” menjelaskan bahwa maulid Nabi mulai diperingati pada abad IV Hijriyah oleh Dinasti Fathimiyyun di Mesir. Dynasti Fathimiyyun mulai menguasai mesir pada tahun 362 H dengan raja pertamanya Al Muiz lidinillah, di awal tahun menaklukkan Mesir dia membuat enam perayaan hari lahir sekaligus; hari lahir ( maulid ) Nabi, hari lahir Ali bin Abi Thalib, hari lahir Fatimah, hari lahir Hasan, hari lahir Husein dan hari lahir raja yang berkuasa. Kemudian pada tahun 487 H pada masa pemerintahan Al Afdhal peringatan enam hari lahir tersebut dihapuskan dan tidak diperingati, raja ini meninggal pada tahun 515 H.

    Pada tahun 515 H dilantik Raja yang baru bergelar Al amir liahkamillah, dia menghidup kan kembali peringatan enam maulid tersebut, begitulah seterusnya peringatan maulid Nabi shallallahu `alaihi wasallam yang jatuh pada bulan Rabiul awal diperingati dari tahun ke tahun hingga zaman sekarang dan meluas hampir ke seluruh dunia

    b.HakikatDynastiFathimiyyun:
    Abu Syamah (ahli hadist dan tarikh wafat th 665 H) menjelaskan dalam bukunya “Raudhatain” bahwa raja pertama dinasti ini berasal dari Maroko dia bernama Said, setelah menaklukkan Mesir dia mengganti namanya menjadi Ubaidillah serta mengaku berasal dari keturunan Ali dan Fatimah dan pada akhirnya dia memakai gelar Al Mahdi. Akan tetapi para ahli nasab menjelaskan bahwa sesungguhnya dia berasal dari keturunan Al Qaddah beragama Majusi, pendapat lain menjelaskan bahwa dia adalah anak seorang Yahudi yang bekerja sebagai pandai besi di Syam.

    Dinasti ini menganut paham Syiah Bathiniyah; diantara kesesatannya adalah bahwa para pengikutnya meyakini Al Mahdi sebagai tuhan pencipta dan pemberi rezki, setelah Al Mahdi mati anaknya yang menjadi raja selalu mengumandangkan kutukan terhadap Aisyah istri rasulullah shallallahu `alaihi wasallam di pasar-pasar.

    Kesimpulan :
    Jadi pelopor maulid Nabi adalah kelompok Bathiniyyah . Ini pendapat yang kuat. Adapun yang mengatakan bahwa maulid tersebut dimulai tahun 604 H oleh Malik Mudoffar Abu Sa’id Kukburi maka ini tidak menafikan hal diatas karena awal maulid tahun 604 H ini di Mushil saja, adapun secara mutlak maka Bathiniyyahlah pencetus pertama maulid Nabi didunia, khususnya di Mesir. (Lihat kitab “Al-Bida’ Al-Hauliyah” dan “Al-A’yad wa Atsaruha).mereka mempunyai cita-cita untuk merubah agama Islam ini dan memasukkan hal-hal yang bukan dari agama , untuk menjauhkan kaum muslimin dari agama yang benar ini. Menyibukkan manusia dengan bid’ah (perayaan bid’ah seperti maulid) adalah salah satu jalan yang mudah untuk mematikan Sunnah Nabi dan menjauhkan manusia dari syari’at Allah yang lurus. ( “Al-Bida’ Al-Hauliyah” Hal.145, oleh Abdullah bin Abdul Aziz at-Tuwaijiry ).

    At-Tabrani meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad shahih bahwa Rasulullah bersabda : ” Tidaklah aku tinggalkan sesuatu yang mendekatkan kepada Allah Ta’ala , kecuali telah aku perintahkan kepadamu . Dan tidaklah aku meninggalkan sesuatu yang menjauhkanmu dari Allah Ta’ala , melainkan aku telah melarangmu ”.

    Dalam riwayat yang lain Rasulullah SAW bersabda :
    ” Tidaklah aku tinggalkan sesuatu dari apa-apa yang telah Allah perintahkan kepada kamu sekalian dengannya melainkan sungguh telah aku perintahkan dengan-nya , dan tidaklah aku tinggalkan sesuatu dari apa-apa yang telah Allah larang kepadamu sekalian daripadanya melainkan telah aku larang kamu sekalian daripadanya ”. ( H R . Ibnu Abdil Bar ).

    Rasulullah saw bersabda : ” Bagi kamu sunnahku dan sunnah para ( sahabatku ) Khulafa ’ur-Rasyidin ” ( HR .Abu Daud , Ibn Majah , Ibn Hibban dan Tirmidzi ).

    Hudzaifah ra , ia berkata : „ Setiap ibadah yang tidak ditetapkan sebagai ibadah oleh para sahabat Rasulullah saw , maka jangan lah kamu menetapkannya sebagai ibadah , sebab yang awal tidak meninggalkan suatu perkataanpun pada yang akhir . Maka dari itu takutlah kamu kepada Allah dan ambillah jalan orang – orang sebelum kamu „

    Imam Malik bin Anas berkata :
    „ Sesuatu yang pada zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya bukan merupakan Agama / bagian Agama maka diapun pada zaman sekarang bukan Agama ( bagian Agama ) “

    Allah Subhanahuwata’ala berfirman :
    “ Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? “. ( Q S 5 : 104 )

    Sabda Rasulullah SAW : “ Aku tinggalkan pada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang dengannya tidak akan tersesat selamanya , yaitu Kitabullah dan Sunnahku “.

    ” Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya , sedangkan kamu mendengar ( perintah-perintah-Nya ) dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang ( munafik ) yang berkata : ” Kami mendengar kan ”, padahal mereka tidak mendengarkan ( mereka mendengarkan tetapi hati mereka mengingkarinya ). Sesungguhnya seburuk-buruk binatang ( makhluk ) disisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apapun ”. ( Q . S Al – Anfaal : 20 – 23 )

    Rasulullah bersabda : ” Sebaik – baik umatku adalah yang se zaman denganku , kemudian mereka yang datang setelahnya ”. ( HR Bukhari – Muslim )

    Dari Abdullah bin Mas’ud r.a beliau berkata ; ” Ikutilah jejak – jejak kami , janganlah kalian membuat sesuatu yang baru (” amalan baru”) , karena kalian telah tercukupi dalam agama kalian (dengan mengikuti jejak kami itu ). ( Diriwayatkan oleh Al-Lalika’i 1/86 ).
    Wallahu”alam

  2. ahmad busyairi

    AJARAN ISLAM TELAH SEMPURNA
    “ Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilih an (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” ( QS Al-Ahzab:36)
    At-Tabrani meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda : ” Tidaklah aku tinggalkan sesuatu yang mendekatkan kepada Allah Ta’ala , kecuali telah aku perintahkan kepadamu Dan tidaklah aku meninggalkan sesuatu yang menjauh kanmu dari Allah Ta’ala , melainkan aku telah melarangmu ”.
    Dalam riwayat yang lain katanya :”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda : ” Tidaklah aku tinggalkan sesuatu dari apa-apa yang telah Allah perintahkan kepada kamu sekalian dengannya melainkan sungguh telah aku perintahkan dengannya , dan tidaklah aku tinggalkan sesuatu dari apa-apa yang telah Allah larang kepadamu sekalian daripada nya melainkan telah aku larang kamu sekalian daripadanya ”. ( H R . Ibnu Abdil Bar ). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam , beliau bersabda:
    “Sesungguhnya tidak seorangpun dari Nabi yang datang sebelumku melainkan wajib atasnya menunjukkan ummat nya kebaikan yang diketahuinya dan memperingatkan mereka dari kejahatan yang diketahuinya.”( H.R :Muslim , An-Nasai ,Ibnu Majah
    Mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam menetapkan Syari’at
    Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menetapkan dalam Syari’at untuk beribadah dengan merayakan hari kelahiran Nabi. Perbuatan sebagian kaum Muslimin melakukan ritual dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang tidak ada contohnya dari Rasulullah dan Sahabat jelas merupakan sikap mendahului Allah dan Rasulullah dalam menetapkan Syari’at. Sedangkan Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya…”[Al-Hujurat :1] . Maksudnya adalah, orang-orang Mukmin tidak boleh menetapkan sesuatu hukum, sebelum ada ketetapan dari Allah dan Rasul-Nya.
    Bagaimana pendapat Anda ? Jika Raja alam semesta ini menetapkan suatu aturan bagi kebahagian hambanya , kemudian Sang Raja menyatakan bahwa aturan-Nya itu telah sempurna. Lalu datanglah seorang hamba dengan membawa aturan baru yang dianggap nya baik bagi dirinya dan bagi hamba yang lain. Tidakkah ia (si hamba) tanpa disadari telah lancang menuduh aturan Sang Raja belum sempurna, sehingga perlu ditambahi ? apakah hak mereka sehingga dengan sangat lancang nya menambah nambahi aturan aturan Islam yang telah dinyatakan telah sempurna oleh Allah Subhanallahuwa ta’ala sebagaimana firman-Nya :
    “Pada hari ini, Aku sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku cukupkan ni’mat-Ku kepadamu, dan Aku ridla Islam jadi agamamu..” ( Q S al – Maidah : 3 )
    Munculnya wujud rasa cinta yang keliru
    Perayaan maulid oleh sebagian kaum Muslimin dianggap sebagai bentuk ungkapan rasa cinta terhadap Nabi yang paling mulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Jika ini benar, siapakah diantara kita di zaman ini yang lebih dalam cintanya kepada Nabi ketimbang Sahabat ?. Tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali menjawab “Sahabatlah yang paling dalam cintanya kepada Nabi”. Jika memang demikian, lalu mengapa para Sahabat tidak mewujudkan rasa cinta kepada Nabi dengan cara merayakan hari kelahiran Nabi sebagaimana sebagian muslim di zaman ini ? Mengapa para Sahabat tidak mengarang bait-bait syair untuk memuji Nabi di hari kelahirannya ? Mengapa pula para Sahabat tidak membentuk “Panitia Lomba Maulid” untuk memeriahkan HUT manusia terbaik di muka bumi ini ?. “Tunjukkanlah bukti kalian, jika kalian orang-orang yang benar” [Al-Baqarah : 111]. Sesungguhnya Ahlussunnah meyakini bahwa yang terpenting adalah bagaimana menjadi mukmin yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena ungkapan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya bisa juga diucapkan oleh orang-orang munafik, akan tetapi mereka bukan orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul -Nya. Dan mustahil mendapatkan kecintaan Allah kecuali dengan mengikuti Sunnah Nabi yang mulia. Allah berfirman : “Katakanlah ; ‘jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku ( Muhamad )! Niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampunkan dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “ [QS.Ali-‘Imran: 31].
    ” Dan kebanyakan mereka tidaklah mengikuti kecuali prasangka saja., Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna mencapai kebenaran . Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan ” ( QS . 10 : 36 )
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ” Bagi kamu sunnahku dan sunnah para ( sahabatku ) Khulafa ’ur-Rasyidin ” ( HR . Abu Daud , Ibn Majah , Ibn Hibban dan Tirmidzi ).
    Hudzaifah ra , ia berkata : ” Setiap ibadah yang tidak ditetapkan sebagai ibadah oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , maka jangan lah kamu menetapkannya sebagai ibadah , sebab yang awal tidak meninggalkan suatu perkataan pun pada yang akhir . Maka dari itu takutlah kamu kepada Allah dan ambillah jalan orang – orang sebelumkamu”
    Dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda : “Hati-hatilah kalian dari perkara –perkara baru yang diada-adakan dalam agama ini, karena sesungguhnya setiap perkara baru yang diada-adakan dalam agama ini adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”
    ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata : “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shalla llahu ‘alaihi wasallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mere ka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy] Wasiat Imam al-Auza’i :
    Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atas nya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] ———– Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laaman-Nubalaa’VII/120]
    Membantu penyebaran hadits palsu : Perlu diketahui bahwa banyak beredar di tengah ummat hadits-hadits tentang keutamaan merayakan hari kelahiran Nabi. Dan semuanya adalah palsu tidak ada keraguan padanya. Di bulan Rabiul Awwal selalu disampaikan hadits-hadits tentang keutamaan maulid di atas-atas mimbar maupun pada saat acara perayaan dilangsungkan, ini tentu saja membantu menyebarkan kedustaan atas nama Rasulullah. Sedangkan Rasul bersabda : “Barang siapa mengatakan sesuatu atas namaku sesuatu yang tidak aku katakan maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya dalam neraka.” [HaditsHasan riwayat Ahmad].
    Prof K.H. Ali Mustafa Yaqub, M.a ( Sedutan bukunya: Islam masa kini ). Dalam pengajian-pengajian maulid, para muballigh di surau-surau sering mengumandangkan ucapan-ucapan yang diklaim sebagai sabda Nabi saw. Ucapan-ucapan itu adalah, “Barangsiapa meng agungkan hari kelahiranku, maka kelak ia akan tinggal di surga bersamaku,” atau ‘hadis’ lain seperti, “Barang¬siapa mendermakan satu dirham untuk merayakan hari kelahiranku maka tak ubahnya ia mendermakan emas sebesar Gunung Uhud,” dan lain sebagai nya.‘ Hadits-hadits’ ini dalam kitab-kitab koleksi Hadits yang muktabar (kitab-kitab yang secara ilmiyah dapat dijadikan standar rujukan Hadits) tidak pernah didapati. Apa¬kah gerangan para penulis Hadits lupa sehingga tidak mencantumkan ‘hadits-hadits’ itu dalam kitab-kitab mereka, atau memang ‘hadits-hadits’ itu tidak pernah ada karena memang Nabi Muhammad s.a.w. tidak pernah bersabda seperti itu? Seandainya ‘hadits-hadits’ itu pernah ada karena Nabi Muhammad saw. pernah bersabda demikian, sedangkan para penulis Hadits lupa sehingga tidak mencantumkannya di dalam kitab-kitab mereka, maka paling tidak ada catatan yang me¬nunjukkan bahwa para Sahabat Nabi saw., para Tabi’in, dan para Ulama Salaf pernah mengamalkan maksud ‘hadits-hadits’ tersebut. Namun ternyata catatan seperti itu juga tidak ada. Bahkan sampai awal abad ke- 7 hijri belum ada catatan yang menunjukkan adanya ulama atau tokoh sejarah yang mengamalkan maksud ‘hadits-hadits’ tersebut. Wallahu”alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s