Lailatul Qadar atau Malam Seribu Bulan bukanlah malam yang penuh dengan bintang yang bersinar dan tidak selamanya harus diiringi keajaiban atau kejadian-kejadian aneh, karena Allah lebih mulia kedudukannya untuk membuktikan dan memberikan segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya. Akan tetapi malam Lailatul Qadar adalah malam yang mempunyai tempat khusus di sisi Allah, mempunyai kedudukan yang istimewa dalam Islam, karena malam tersebut diakui sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam tersebut para malaikat termasuk malaikat Jibril turun ke bumi dengan izin Allah, menebar kesejahteraan hingga terbit fajar.

Seperti halnya kematian, malam Lailatul Qadar juga dirahasikan keberadaannya oleh Allah supaya manusia mempergunakan seluruh waktunya untuk beribadah dan mengingatnya dengan tetap mawas diri setiap saat, selalu berbuat kebaikan dan taat kepada Tuhannya. Oleh karena itu, banyak perbedaan dan ketidak jelasan tentang kapan jatuhnya lailatul qodar, ada hadits yang menjelaskan bahwa lailatul qodar jatuh pada malam kesepuluh terakhir dari bulan Ramadlan, yaitu malam ke 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, atau ke 29/30, lebih khusus lagi diterangkan bahwa lailatul qodar jatuh pada malam-malam ganjilnya, yaitu, malam ke 21, 23, 25, 27, atau ke 29. Ada yang menjelaskan lailatul qodar jatuh pada malam ke 27. Menurut Imam Syafi’i, malam ke 21 atau 23 lebih dapat di harapkan jatuhnya lailatul qodar. Di terangkan dalam kitab Tarsyihul Mustafidin Syarah Fathul Mu’in, bahwa jatuhnya lailatul qodar dapat di ketahui dari hari awal puasa. Kalau awal puasa pada hari Ahad atau Rabu maka lailatul qodar jatuh pada malam ke 29, kalau awal puasa pada hari Senin maka lailatul qodar jatuh pada malam ke 21, kalau awal puasa pada hari Selasa atau Jum’at maka lailatul qodar jatuh pada malam ke 27, kalau hari Kamis maka lailatul qodar jatuh pada malam ke 25, kalau hari Sabtu maka lailatul qodar jatuh pada malam ke 23. Perbedaan dan ketidak jelasan ini, menunjukkan bahwa memang lailatul qodar adalah rahasiah ilahi, sebagaimana kematian seperti yang telah disebutkan di atas.

Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa salah satu ciri datangnya malam Lailatul Qadar adalah melihat segala sesuatu yang ada di bumi ini tertunduk dan sujud ke hadirat-Nya. Sebagian lain mengatakan pada malam itu dunia terang benderang, dimana kita dapat melihat cahaya dimana-mana sampai ke tempat-tempat yang biasanya gelap. Ada juga yang mengatakan orang yang mendapatkan malam Lailatul Qadar dapat mendengar salam dan khutbahnya malaikat, bahkan ada yang mengatakan bahwa salah satu ciri tersebut adalah dikabulkannya do’a orang yang telah diberikannya taufik. Dan dalam beberapa hadits disebutkan beberapa tanda-tanda lailatul qodar, di antaranya adalah

  • Dari Ibnu Abbas ra berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah
  • Dari Ubay bin Ka’ab ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:“Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan” (HR Muslim)
  • Abu Hurairoh ra pernah berkata: Kami pernah berdiskusi tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah SAW, beliau berkata,“Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan.” (HR. Muslim)
  • Dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah SAW, “Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)” (HR. at-Thobroni).