Ayah bunda Rasulullah saw adalah orang-orang yang selamat dan tidak terpengaruh oleh keyakinan Jahiliyyah, meskipun keduanya adalah orang-orang yang hidup dalam masa fatroh (zaman kekosongan utusan). Demikian juga moyang beliau hingga Nabi Adam as, tidak seorang pun dari mereka yang tergolong kafir dan musyrik. Sebagaimana ditegaskan dalam kitab Fathul ‘Allam bi Syarhi Mursyidil Anam li Sayyid Muhammad Abdullah al-Jordani, bahwa Rasulullah bersabda, “Aku selalu berpindah dari iga-iga yang suci dan rahim-rahim yang bersih”. Rasulullah adalah semulya-mulya Makhluq, Beliau selalu berada dalam kemuliaan disisi Allah swt, sedangkan kemuliaan dan kekufuran jelas tidak mungkin berkumpul. Di dalam kitab tersebut juga disebutkan sebuah hadits dari ‘Urwah dari Aisyah ra, yang mengaskan bahwa Ayah dan Bunda Rasulullah saw dihidupkan kembali oleh Allah, lalu keduanya beriman, kemudian keduanya dimatikan kembali oleh Allah swt.

Dari penjelasan di atas setidaknya ada tiga alasan bahwa Ayah dan Bunda Rasulullah saw adalah termasuk orang-orang yang selamat,

  1. Ayah dan Bunda Rasulullah saw keduanya adalah orang-orang yang hidup dalam zaman fatroh, zaman tidak ada seorang Rasul yang diutus oleh Allah, sehingga tidak ada berita-berita kebenaran yang datang dari wahyu ilahiyyah. Orang-orang yang hidupnya pada zaman tersebut, tidak akan di adzab oleh Allah. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Isro’ ayat 15 yang artinya, “dan Kami tidak akan meng’adzab sebelum Kami mengutus seorang rasul“.
  2. Pernyataan as-Suhaili, al-Qurthubi, Nashiruddin bin Munir dan lain-lain, sesuai penegasan hadits, bahwa Ayah dan Bunda Rasulullah saw di hidupkan kembali lalu keduanya ber iman, baru kemudian di matikan lagi oleh Allah.
  3. Pernyataan Imam Sanusi dan selainnya, bahwa Ayah bunda Rasulullah saw meninggal dalam kedaan beriman dan meng-esakan Allah dan tidak tersentuh oleh keyakinan Jahiliyyah.

Diantara kitab-kitab yang menerangkan keimanan Ayah dan Bunda Rasulullah saw.

  1. Fathul ‘Allam bi Syarhi Mursyidil Anam li Sayyid Muhammad Abdullah al-Jordani.
  2. Ad-Durujul Munifah fil Aabaais Syarifah. Karya Imam Suyuthi
  3. At-Ta’dzim wal Minnah fi Anna Abawayil Musthofa SAW fil Jannah. Karya Imam Suyuthi
  4. An-Naslul Jaliyyah fil Aabaail ‘Aliyyah. Karya Imam Suyuthi
  5. Sabilun Najah. Karya Imam Suyuthi
  6. Al-Intishor  li Walidayin Nabiyyil Mukhtar SAW. Karya Syaikh Murtadlo az-Zabidi
  7. Hadiqotus Shofa fi Abawayil Musthofa SAW. Karya Syaikh Murtadlo az-Zabidi
  8. Haqiqu Aamaalir Rojiin fi Anna Walidayil Musthofa SAW Minan Najiin. Karya Ibnul Jazzar.
  9. Mursyidul Huda fi Najati Abawayil Musthofa SAW. Karya Syaikh Wahdi ar-Rumi
  10. Dzakhoiril ‘Abidin fi Najati Walidayil Mukarromi Sayyidil Mursalin. Karya Syaik Asbiry
  11. Bulughul Marom fi Aabaain Nabi ‘Alaihissholatu was Salam. Karya Syaikh Idris bin Mahfudz
  12. Al-Qoulul Mukhtar fi ma Yata’allaqu bi Abawayin Nabiyyil Mukhtar. Karya Imam ad-Dairobi.
  13. Hadayal Kirom fi Tanzihi Aabaain Nabi ‘Alaihis Sholatu was Salam. Karya Imam al-Badi’i.
  14. Ummahatun Nabi SAW. Karya al-Madaini
  15. Aabaain Nabi SAW. Karya Ibnu ‘Ammar
  16. Al-Qaulul Musaddad fi Najati Walidai Sayyidina Muhammad SAW. Karya Muhammad bin Abdur Rahman al-Ahdal
  17. dan lain-lain.