KH. Abdul Wahab Chasbullah lahir di Tambakberas Jombang pada bulan maret tahun 1888, qiila 1883/1884, meninggal pada 29 Desember 1971. Kedua orang tuanya kebetulan berdarah biru. Ayahandanya, Kiyai Chasbullah adalah putera Kiyai Sa’id, salah satu keturunan Sunan Pandan Arang Semarang. Sedang Ibundanya, Nyai Lathifah, masih keturunan Sunan Ampel.

Sejak kecil Kiyai Wahab mendapat didikan langsung dari kedua orangtuanya di pesantren Tambakberas, baru setelah berusia 13 tahun beliau mulai berkelana dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Diantaranya adalah pesantren Mojosari Nganjuk, Brangahan Kediri di asuh oleh Kiyai Faqihuddin, Kademangan Bangkalan di asuh oleh Syaikhuna Kholil Bangkalan, Tebuireng Jombang, dan terakhir beliau memperdalam ilmu-ilmu agamanya di Mekkah kepada sejumlah ulama ternama, seperti Syaikh Mahfudz Termas, Syaikh Ahmad Khothib Minangkabau, Syaikh Abdul Hamid Kudus, Syaikh Baqir Yogyakarta, Syaikh Muhtarom Banyumas, Syaikh Asy’ari Bawean, Syaikh Sai’d Yaman, Syaikh Abdul Karim Addaghostani dan Syaikh Umar Badjened.

Kiyai Wahab adalah penggagas sekaligus fasilitator lahirnya jam’iyyah Nahdlotul Ulama. Beliau adalah ulama sekaligus pemimpin yang bijak, demokratis, moderat dan bersemangat. Ide-ide Brilian, pemikiran-pemikiran yang cemerlang dari beliau banyak membuahkan trobosan-trobosan yang luar biasa. Diantaranya, berdirinya Madarasah Nahdlotul Wathon yang kemudian berkembang pesat dan menjadi sasana pengkaderan kaum muda dalam aspek kebangsaan, kelompok diskusi Taswirul Afkar, organisasi perekonomian Nahdlotut Tujjar, Menggagas berdirinya Jami’yyah Nahdlotul Ulama, menciptakan budaya tulis menulis didalam NU dan lain-lain.

Kiyai Wahab adalah seorang tokoh yang terbuka dan luwes, bisa bergaul dengan berbagai kalangan juga seorang ulama yang menekankan pentingnya kebebasan dalam keberagamaan terutama kebebasan berpikir dan berpendapat sekaligus tegas dalam mempertahankan pandangannya, terutama jika berkaitan dengan Ahlussunnah wal jama’ah.