Ma’na Jihad ala Pesantren

Secara bahasa jihad yang berasal dari kata jahada berarti berjuang atau berupaya. Sedangkan jihad menurut istilah bisa diartikan, pencurahan tenaga secara fisik untuk tujuan yang baik. Jadi berperang dengan mengangkat senjata adalah salah satu dari sekian banyak model jihad. Dalam sebuah hadits disebutkan, Setelah kembali dari perang Uhud Rasulullah saw mengingatkan “Kita baru kembali dari jihad ashghor (yang kecil) menuju jihad akbar (yang lebih besar)”. Para sahabat kemudian bertanya, “apa yang dimaksud dengan jihad akbar ya Rasul?. Rasul menjawab, “jihad akbar adalah perang melawan hawa nafsu”. Dalam hadits yang lain disebutkan, Mujahid adalah orang yang memerangi nafsunya didalam keta’atan terhadap Allah, adapun muhajir adalah orang yang menjahui kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa. (Musnad Ahmad)

Dalam hadits tersebut dapat dipahami adanya fariasi ma’na jihad dan tidak melulu diartikan perang dengan mengangkat senjata. Berkaitan dengan jihad ini, KH. Hasyim Asy’ari, Rais Akbar PBNU, pada tahun 1945 pernah menerjemahkannya secara tekstual, sehingga timbul Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945, ya’ni ketika serdadu sekutu yang dipelopori Inggris datang ke Surabaya pada bulan November 1945 ingin kembali menjajah Indonesia. Resolusi Jihad ini di maksudkan untuk membakar semangat seluruh umat Islam untuk memerangi dan menghalangi sekutu, demi membela tanah air dan bangsa. Sehingga dengan fatwa jihad ini para relawan yang dipimpin Letnan Soepomo Surabaya seperti Laskar Hizbullah memiliki semangat tempur di medan perang karena didorong oleh fatwa bahwa jihad membela tanah air sama dengan membela agama.

Setelah melaksanakan jihad dalam arti qital (perang) NU tidak lantas berhenti. NU melakukan jihad dalam arti yang lain, yaitu, mengisi kemerdekaan dengan pendidikan, berupaya mengembangkan kemakmuran dan menegakkan keadilan. Jadi perang kemerdekaan membela agama dan negara tidaklah final. Karena kalau Cuma perang, Islam tak akan melahirkan rahmatal lil ‘alamin. Setelah kemerdekaan, agama dituntut melahirkan kesejahteraan bagi rakyat, papar Kiyai Hasyim Muzadi dalam Risalah NU.

Sementara itu,  Syaikh Jamal Banna, intelektual muslim asal Mesir mengatakan, “jihad bukan berarti berjuang untuk mati bersama, tetapi hakekat jihad adalah berjuang untuk tetap hidup bersama dengan aman, damai dan sejahtera”. Rumusan jihad yang dikemukakan Syaikh Jamal Banna ini berdekatan maksud dengan apa yang telah dikatakan KH. Hasyim Muzadi diatas, yaitu bahwa Islam adalah agama Rahmatal lil ‘alamin. Dalam hadits Abdullah bin Amr, Rasulallah saw bersabda, Allah akan menyayangi orang-orang yang mempunyai sifat penyayang, sayangilah orang-orang yang ada dibumi, maka orang-orang yang ada dilangit akan menyangi kalian semua. Tetapi kepahaman jihad seperti ini bukan berarti menafikan kepahaman jihad yang berarti perang mengangkat senjata melawan orang kafir, justru karena konsep jihad dengan arti perang inilah orang-orang non-muslim tidak berani semena-mena terhadap seorang muslim.

Akan tetapi juga harus di ingat bahwa kewajiban memerangi orang kafir haruslah memperhatikan syarat-syarat sebagaimana yang tercantum dalam kitab-kitab fiqh, diantaranya seperti, sudah ada izin dari ulil amri, orang Islam berada dalam pihak yang didzolimi, memperhatikan manfaat dan madlorot bagi orang Islam secara umum, orang kafir yang diperangi bukanlah kafir musta’man yaitu, orang kafir yang telah mendapat jaminan keamanan, kafir mu’ahad yaitu, orang kafir yang sudah ada perjanjian damai dengan orang Islam, dan kafir dzimmi yaitu orang kafir yang berada dalam lindungan orang Islam dan lain-lain. Waallohu a’lam.

Iklan

4 thoughts on “Ma’na Jihad ala Pesantren

  1. Hadits pertama begitu terkenal di masyarakat kita. Untuk menjawabnya kita serahkan kepada para ulama pakar hadits. Komentar Ulama’ hadits tentang hadits ini ;
    Para ulama hadits yaitu imam Ibnu Mu’in, Al Baihaqi, Al-‘Iroqi dan al Suyuti menyatakan bahwa sanad hadits ini dhoif, sebagian ulama hadits lainnya seperti Imam Ahmad dan Ibnu Taimiyah menyatakan hadits ini hadits palsu :
     Imam Al Iraqy berkata dalam takhrij Ihya’ Ulumi al Dien 2/6,”Diriwayatkan oleh Al Baihaqy dalam kitab al Zuhdu dari riwayat Jabir, sanad hadits ini lemah.”
     Imam Ibnu Hajar dalam takhrij al Kasyaf 4/114 berkata,” Hadits ini dari riwayat Isa bin Ibrahim dari Yahya bin Ya’la dari Laits bin Abi Sulaim. Ketiga perawi ini lemah. Juga diriwayatkan oleh an Nasa’i dalam kitab al Kuna dari perkataan Ibrahim bin Abi Ablah, seorang tabi’in dari Syam.”
     Dalam Tasdidu al Qaus, beliau juga berkata,” Hadits ini begitu terkenal di kalangan mansyarakat, (padahal) merupakan perkataan Ibrahim bin Abi Ablah, dalam kitab al Kuna karangan imam an Nasa’i.”
     Syaikh Zakaria al Anshari dalam Ta’liq atas tafsir al Baidhawi menyatakan bahwa imam Ibnu Taimiyah berkata tentang hadits ini,” Tidak ada asalnya (hadits palsu).” Ibnu Hajar berkata tentang perawi Yahya bin Al Ala,” Dia tertuduh memalsukan hadits.” Imam Ad Dzahabi berkata,” Imam Abu Hatim berkata,“Dia tidak kuat periwayatannya.” Imam Ad-Daruqutni berkata,”Dia matruk (tertuduh memalsu hadits).” Imam Ahmad berkata,” Dia adalah kadzdzaab ( pembohong/ pemalsu hadits).”
     Syaikh Nashirudin al Albani menyatakan hadist ini munkar (sangat lemah).
     Imam Ibnu Taimiyah berkata,” Adapun hadits yang diriwayatan oleh sebagian orang bahwa beliau datang dari perang Tabuk dan bersabda,”Kita kembali dari al jihad al asghar menuju al jihad al akbar,”maka tidak ada asalnya (hadits palsu) dan tak seorang ulama hadits pun yang meriwayatkannya. Jihad melawan orang-orang kafir adalah seutama-utama amalan bahkan amalan paling utama yang dikerjakan oleh manusia.” Beliau menyebutkan banyak dalil yang menerangkan hal ini antara lain QS. 4:95, 9:19-22, dll. [Majmu’ Fatawa 11/197]. Dengan demikian, pendapat yang mengatakan jihad melawan hawa nafsu merupakan jihad akbar ini jelas salah kaprah, sama sekali tidak ada dalilnya dari Al-Qur’an dan As-sunnah. Hadits pertama ini jelas-jelas bertentangan dengan ayat Al Qur’an [QS. 4:94-96] dan ayat-ayat serta hadits-hadits yang menerangkan keutamaan jihad yang sebagiannya telah kita singgung di atas.
     Seperti disebutkan Imam Ibnu Hajar, perkataan ini adalah perkataan Ibrahim bin Abi Ablah. Diriwayatkan ketika ada pasukan kembali dari medan perang, Ibrahim bin Abi Ablah berkata,” Kalian telah kembali dari jihad asghar. Lantas apa yang kalian kerjakan dalam jihad akbar, yaitu jihadul qalb.’ Namun riwayat ini diragukan, mengingat sanadnya tidak bersih. Imam ad Daruquthni berkata,” Ibrahim bin Abi Ablah adalah seorang yang tsiqah, namun jalan-jalan (sanad) kepadanya tidak bersih.” [Siyaru A’lam 6/324]. Selain sanadnya tidak kuat, beliau juga manusia biasa, perkataan beliau jelas salah karena bertentangan dnegan Al Qur’an dan As Sunah. Kalaupun tetap dipakai, maknanya adalah setelah berperang maka janganlah lupa akan jihad melawan hawa nafsu. Karena kemenangan dalam medan perang selalu berasal dari amal sholih, sebagaimana dikatakan shahabat Abu Darda’,” Kalian berperang (bermodalkan) amal kalian.” Dengan demikian, thalabul ilmi saja, tasfiyah saja, amalan sunat saja tanpa perang melawan orang kafir justru berarti terjebak dan ditawan oleh hawa nafsu dan setan.
    2. Hadits kedua sudah dijelaskan dalam keterangan terdahulu tentang cara memahami hadits-hadits yang menerangkan amal yang paling utama. Sebagaimana dijelaskan Imam Ibnu Hajar, jawaban nabi ini disesuaikan dengan kondisi si penanya atau kondisi waktu dan tempat saat itu. Barangkali si penanya masih bergelimang dosa, sehingga nabi menyatakan kepadanya bahwa berjuang mengalahkan hawa nafsu itu jihad terbesar baginya. Namun keterangan ini akan kita tambahkan lagi mengingat banyak yang memperalat perkataan Imam Ibnu Qayyim untuk menomor sekiankan perang melawan orang kafir. Mereka mengatakan jihad melawan hawa nafsu adalah jihad terbesar, (mereka selalu berfikir) untuk apa memerangi orang kafir kalau hal itu hanyalah jihad asghar, bukankah lebih utama bila mereka jihad melawan hawa nafsunya dan setan ? (mereka selalu berfikir) Mereka tidak akan berjihad melawan orang kafir sampai mereka mengalahkan hawa nafsu, sampai iman dan aqidah mereka seperti iman para shahabat, sampai mereka bersih dari dosa. Untuk itu tidak boleh berjihad sampai mendapatkan tarbiyah dan tasfiyah, sampai akhirnya lulus dari dua program ini.
    lebih lengkap silahkan klik>>>http://ishoba.wordpress.com/2010/07/03/definisi-jihad-secara-syari/

    • Paling tidak ada dua hadits disini yang menyinggung bahwa jihad tidak hanya dengan mengangkat senjata, meskipun salah satunya dlo’if, tp kan tetap hadits, yang dlo’if adalah salah satu perowinya, tapi matannya???. dan lagi menurut ulama’ ahli hadits, hadits dlo’if kalau didukung oleh hadits lain yang senada ia akan menguat karena dukungan hadits lainnya itu, paling tidak ia menjadi hadits Hasan Li Ghoirihi. Coba di baca sampai akhir, Bukankah disitu saya juga memaknai Jihad dengan berperang mengangkat senjata?

  2. ISTILAH SYAR’I DAN PEMAKAIANNYA
    Dalam Islam, istilah-istilah syar’i selalu mempunyai dua makna; makna bahasa dan makna syar’i atau istilah. Dalam penggunaannya, makna yang dipakai pedoman dan penilaian adalah makna syar’i/istilah. Sebagai contoh :
    a). Sholat maknanya secara bahasa adalah doa, sedang secara syar’i perbuatan dan perkataa tertentu dengan aturan tertentu, dimulai dengan takbir dan diakhiri salam. Makna sholat dengan makna bahasa “doa” ini tersebut dalam ayat dan hadits, namun demikian setiap kali kata sholat disbut maka yang langsung dipahami oleh siapapun adalah makna keduanya, makna syar’inya. Saat sholat dhuhur tiba, misalnya, seluruh orang dalam masjid mendirikan sholat Dhuhur berjama’ah, namun ada seseorang memojok dan tdak ikut sholat, ia berdiam diri dzikir atau membaca Al Qur’an. Ketika ditanya, kenapa tidak sholat ia menjawab sudah karena sholat itu kan berdoa. Akankah jawaban ini diterima? Tentu saja semua pihak akan menolaknya, bisa dipastikan ia malah dituduh pengikut kebatinan atau aliran sesat lainya. Kenapa demikian, karena ia mempermainkan istilah syariat.
    b). Shaum maknanya secara bahasa adalah diam atau menahan diri. Tidak berbicara namanya shaoum, tidak makan namanya shoum, tidak tidur namanya shaum,dst. Makna shaum secara syar’i adalah menahan diri dari makan, minum, jima’ dan seluruh pekerjaan lain yang membatalkan shoum menurut syariat sejak terbit fajar sampai tenggelamnya matahari.
    Demikian pula jihad. Ia mempunyai makna secara bahasa dan syar’i seperti telah kita terangkan di muka. Meski makna sekunder jihad banyak seperti jihad melawan syetan, melawan hawa nafsu da lain-lain, atau makna bahasanya mengerahkan segenap kemampuan, kita tidak bisa menyebut bersungguh-sungguh main bola itu jihad sekalipun seluruh tenaga terkuras habis. Kenapa? Karna itu artinya bermain-main dengan istilah syariat. Cukuplah main bola disebut sebagai bermain bola, dakwah dengan dakwah, membangun ponpes dengan membangun ponpes dst. Cukuplah jihad itu perang melawan orang kafir. Memang bisa dimaknai dakwah dst, tapi itu kalau ada qarinah.

    • Mungkin yang anda maksud adalah, HAD itu harus Jami’ dan Mani’. Had Jihad yang ada di sini juga sdh jami’ dan mani’, yang saya tahu perang dalam bhs arab ada QOTL, HARB dan GHOZWAH, kalau jihad lebih luas cakupannya. wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s