Mbah Hamid lahir dikota lasem pada tahun 1914 M. dengan nama kecilnya Abdul Mu’thi, beliau adalah anak keempat dari dua belas bersaudara pasangan kiai Abdullah bin Umar dan ibu nyai Royhanah binti Shodiq. Selain termasuk dzurriyyatur Rasul (ke 35-Basyaiban), didalam dirinya juga mengalir darah biru yaitu, keturunan Sayyid Abdur Rahman/Mangkunegoro III (dalam versi lain keturunan Jaka Tingkir).

Masa kecilnya tak jauh berbeda dengan lazimnya anak-anak sebayanya kecuali kebiasaannya membaca Alqur’an disaat bermain-pun. Semenjak kecil beliau belajar ilmu agama langsung dari ayahandanya sendiri. Kemudian ketika usianya 12 tahun, beliau memulai pengembaraannya dari pesantren kepesantren lainnya, diantaranya yaitu, pondok pesantren Kasingan Rembang dalam bimbingan Kiyai Kholil bin Harun (mertua Kiyai Bisri Musthofa). Setelah kurang lebih dua tahun di Kasingan, mbah Hamid pindah ke pesantren Termas Pacitan dalam bimbingan Kiyai Dimyathi. Di pesantren Termas ini, mbah Hamid mulai mangalami dan tampak perubahannya, jika sebelumnya terkenal suka bermain bola, kini mulai dekat dengan dunia tasawwuf dan mulai suka berkholwat. Pernah, disaat beliau sedang kholwat ada salah satu santri yang memergokinya, buru-buru beliau mengeluarkan ketapel agar dikira sedang berburu burung. Selama dua belas tahun mbah Hamid di Termas, semakin hari semakin kelihatan tanda-tanda kewaliannya.

Setelah boyong (kembali) dari Termas, tepatnya pada tanggal 12 September 1940, mbah Hamid menikah dengan sepupunya, yaitu Nafisah, puteri ketiga Kiyai Ahmad Qusyairi Pasuruan, lalu mbah Hamid menetap di Pasuruan, di pesantren mertuanya, pondok pesantren Salafiyyah Pasuruan. Mbah Hamid adalah sosok ulama’ teladan, sosok seorang muslim yang ideal, sangat tegas bersyari’at. Sabar, lembut, arif, tawadlu’ dan sosok pribadi yang menyejukkan, selalu menghormati sesama, tidak membedakan orang karena status sosial, kekayaan dan sebagainya.

 Setelah wafat, pada tanggal 25 Desember 1982 /09 Rabi’ul Awal 1403 dan dimakamkan dibelakang masjid jami’ Alanwar ditengah kota Pasuruan Jawa Timur, sehingga sekarang ini makam mbah Hamid selalu ramai dengan para penziarah, dan orang-orang yang berdo’a dan bertawassul dengan kemulyaan dan kedekatannya kepada Allah swt. Kata mbah Hamid dalam syi’ir gubahannya, “ Nilai seseorang ditentukan oleh amal perbuatannya selama hidup, sedangkan karomah akan tampak setelah wafatnya ”.