Dalam ilmu balaghoh,istilah Negara Materialis ini termasuk dalam katagori majaz mursal yang ‘alaqohnya mahalliyah (mengatakan tempat tetapi yang dikehendaki adalah penghuninya atau keadaan didalamnya). Istilah ini timbul sebagai relevansi fenomena yang sedang menggejala dan merajalela ditengah-tengah masyarakat, kebanyakan dari mereka mengukur apapun dengan hitungan materi antara untung dan rugi. Bahkan dalam menjalankan ibadah sekalipun, mereka lebih menyorot kepada keuntungan duniawi daripada keselamatan ukhrowi, mereka sanggup dan berani mengerjakan apapun dalam usahanya menggait kecintaan tuhan agar sudi membantu dalam upayanya mengejar kesuksesan duniawi, seperti mengerjakan ritual ini, wirid ini, puasa ini yang bertujuan atau sebagian tujuannya agar dimudahkan rizkinya, diterima kerja disini, dapat menduduki jabatan ini, agar dipelihara harta bendanya, dan lain sebagainya.

Jelasnya sekarang ini mereka lebih betah dan khusyuk mendengarkan ceramah yang rasional yang dapat mendukung dan mensuport usahanya dalam meraih kesuksesan duniawi, daripada mendengarkan ceramah-ceramah agama yang banyak menyinggung persoalan surga dan neraka, mungkin mereka sudah tidak peduli lagi akan nasibnya kelak di akhirat. Apakah kelah termasuk orang yang sa’adah atau orang yang syaqowah?. Atau bahkan mereka sudah tidak yakin lagi akan adanya hari kiamat, hari pembalasan, hari kepastian antara haq dan batil ?

Secara fisik semua manusia sama, yang berbeda adalah cara pandang mereka mengenahi kehidupan. Hal ini karena dipengaruhi oleh situasi dan kondisi serta ilmu yang mereka peroleh, Jika harta benda ia anggap sanggup membahagiakan, maka ia akan berusaha dapat mengumpulkan harta benda sebanyak-banyaknya, jika ilmu yang ia anggap dapat membahagiakan, maka ia akan berusaha mencarinya, dan jika kekuasaan yang ia anggap sanggup membahagiakan, maka ia akan berusaha sekuatnya untuk mendapatkan kedudukan dan kekuasaan.

Ada orang yang sengaja menjauhi hiruk pikuk dunia untuk mendapatkan kebahagiaan ukhrowi, ada yang hanya mengurusi dunianya, melupakan atau pura-pura lupa akan kehidupan setelahnya, ada pula yang gigih menghadapi tantangan hidup didunia sambil berbekal untuk kehidupan akhiratnya. Akan tetapi sekarang ini sudah tidak banyak orang yang mendahulukan urusan ukhrowi daripada urusan duniawi, apalagi orang yang tulus ihlas hanya mementingkan ukhrowi, kiranya sudah menjadi barang antik dan hampir mengalami kepunahan, kebanyakan adalah budak-budak nafsu yang dengan segala daya upaya berusaha mengejar kesenangan dan kepuasan.

Padahal semua itu hanya semu dan sementara, semakin dikejar semakin dahaga bak meminum air laut. Belum punya kepingin punya, sudah punya ini kepingin yang itu, dikasih itu kepingin yang lain, mendapatkan yang lain melirik milik orang lain. Rasulullah saw bersabda “mencintai dunia adalah pokok dari segala kesalahan”. Sementara kesalahan sangat berpotensi mendatangkan madlorot bagi Sipelaku dan lingkungannya. Rasanya sudah plak sekali jikalau Negara seperti ini, banyak terjadi kecurangan, kekacauan, musibah dan bencana dimana-mana, karena sebagian besar dari warganya sangat mencintai harta benda dan kurang memperhatikan ajaran-ajaran agamanya. Telah tampak kerusakan didarat dan dilaut karena ulah tangan manusia (ArRum 41). Dan apa saja musibah yang menimpah kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahanmu). (Assyuro. 30).