Oleh, Agus Mahfudz
Hermeneutika adalah metode tafsir Bible. Oleh pemikir kristen dan filosof barat metode tafsir Bible ini dikembangkan menjadi metode penafsiran teks secara umum. Kemudian sebagian cendekiawan muslim mengadopsi dan mengembangkannya menjadi alternatif dari metode pemahaman Alqur’an yang dikenal dengan nama Ilmu Tafsir.

Diantara implikasinya, para praktisi hermeneutika dituntut untuk bersikap skeptis, selalu meragukan kebenaran yang datang dari manapun, sehingga tak urung mereka akhirnya terjebak dan terperangkap dalam lingkaran hermeneutika, dimana makna senantiasa berubah. Padahal sikap semacam ini hanya pantas dan sesuai untuk Bible yang selalu mengalami perubahan dan memuat banyak kesalahan redaksi. Bukan Alqur’an yang jelas kesahihan proses transmisinya dari zaman kezaman. Selain itu, hermeneutika ini menghendaki para pemujanya menganut relatifisme opistemologi. Tidak ada tafsir yang mutlak benar, semuanya relatif, yang benar menurut seseorang belum tentu benar menurut orang lain, kebenaran terikat dan bergantung dengan konteks (zaman dan tempat) tertentu, membuka panggung ijtihad secara vulgar pada semua dimensi agama. Dampaknya, tidak hanya mengaburkan kebenaran Dinul Islam, juga menolak kebenaran, tetapi juga menumbuhkan mufassir-mufassir gadungan dan pemikir-pemikir liar bag bunga tumbuh dimusim semi, yang menganggap ijtihad akal manusia sebagai wahyu non-verbal yang akan terus berlangsung.

Di Indonesia, dampak yang timbul dari penggunaan metode hermeneutika ini sudah sangat mencolok dan jelas. Seperti ide-ide pluralisme dan liberalisasi Islam yang beranggapan bahwa semua agama itu sama. Semua agama itu baik dan benar. Semua agama merupakan jalan menuju kebenaran dan kebajikan. Semua agama mengajarkan cinta kasih. Setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau meyakini bahwa agamanyalah yang paling baik dan benar. Kebenaran bersifat relatif, nisbi dan fleksibel yang bisa berubah setiap saat, tergantung kesepakatan dan kemauan akal manusia.

Puncaknya mereka tidak percaya adanya hukum Tuhan, yang ada hanyalah nilai-nilai ketuhanan (Ulil Absor). Alqur’an masih bermasalah dan kritis sehingga perlu diedit dan disempurnakan (Taufik Adnan, dosen di IAIN Makasar). Teks-teks Islam klasik merupakan perangkap kaum Quraisy dan Alqur’an dalam beberapa hal juga bisa menjadi perangkap kaum Quraisy sebagai suku mayoritas (Sumanto Qurtubi, alumnus fakultas Syari’ah IAIN Semarang). Keyakinan sebagian besar kaum muslimin, bahwa Alqur’an yang ada sekarang ini lafdzon wa ma’nan dari awal sampai akhir, semua adalah kalamulloh, juga keyakinan bahwa Alqur’an sekarang ini sama persis seperti zaman Rasulullah saw, adalah keyakinan yang lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis yang dibuat oleh para ulama’ sebagai bagian dari formalisasi doktrin-doktrin Islam. Hakikat dari sejarah penulisan Alqur’an sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang rumit dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik, tipudaya dan rekayasa (Luthfi Assyaukani). Na’udzu billahi min dzalik.

Kalau kita perhatikan, perkataan-perkataan mereka, ada kesan sombong dan sepertinya mereka adalah para penyembah akal. Tetapi kalau kita cermati lebih seksama, pendapat-pendapat mereka, tidak lebih hanyalah sebuah trik atau cara agar cepat dikenal public (kholif tu’rof). Tanpa cara seperti ini mereka tidak mungkin cepat dikenal masa dengan keterbatasan pengetahuan mereka. Sebab stasiun-stasiun TV swasta di Indonesia hanya menggelar audisi bagi orang-orang yang mempunyai bakat menyanyi dan melawak. Sedangkan yang sesuai dengan bakat-bakat mereka tidak ada.

Untuk itu, himbauan bagi para pemuda muslim, Silahkan belajar apapun dari siapapun dan apapun. Akan tetapi hendaknya jangan sembarangan memilih guru-guru agama. Pilihlah orang-orang yang konsisten dan mumpuni dalam ilmu agama, orang-orang yang berilmu dan mau mengamalkan ilmunya, orang-orang yang dekat dengan Allah dan Rasul-Nya. Sebab Rasulullah saw telah bersabda, “ Sesungguhnya ilmu (wahyu) ini adalah agama, maka waspadalah dari siapa kamu mengambil agama!!. (Shohih Muslim I, hal. 13). Waallohu a’lam Syaikh.

Sumber, Dekonstruksi Pemikiran Islam Liberal. Kritik Fenomena JIL. (Prof. Dr. Hamadi B. Husain). Santri Menggugat Jil dan Sekte Pluralisme Agama. (KH. Abdusshomad Bukhori).