20150305_092619_harianterbit_hasyim_muzadi copyEntah apa sebabnya, salah pemahaman, salah pendidikan, salah lingkungan, salah pergaulan, atau hanya ikut-ikutan?. Yang pasti mereka hobi bener membid’ahkan, mensyirikkan, dan mengkufurkan orang-orang islam yang tidak sepaham dengan mereka, sebut saja diantaranya adalah praktek ajaran yang diterapkan NU, seperti, Yasinan, tahlilan, dibaan, manaqiban, ziarah wali songo dan lain sebagainya. Sepertinya, jika islam dipahami dari ajaran-ajaran mereka, islam tidak lagi rahmatal lil ‘alamin, islam tidak lagi pembawa misi perdamaian, islam tidak lagi pembawa misi persatuan dan ahlaqur karimah.

Dr. KH. A. Hasyim Muzadi Pengurus Besar Nahdlotul Ulama’, pernah di Tanya tentang akulturasi. Syirikkah?. Sesatkah?. Beliau menjawab. Mengapa Nahdlotul Ulama’ menjadi mayoritas di Indonesia?. Ini karena pendekatan yang dipakai Nahdlotul Ulama’ adalh lewat akulturasi, tidak lewat perebutan kekuasaan dan tidak melalui konflik. Karena kalau lewat perebutan kekuasaan, nilai-nilai islam akan sulit membudaya di Indonesia. Sedang kalau lewat konflik, maka hal itu akan menumbuhkan konflik yang baru lagi. Penyikapan terhadap budaya inilah yang menjadikan NU terus meluas di Indonesia.

Nahdlotul Ulama’ menyikapi budaya dalam negeri menjadi tiga kelompok. Lanjut kiyai Hasyim . Yaitu,
Pertama, budaya yang memang menurut islam sudah benar, jadi tinggal memasukkan ke dalam frame Islam dan bahkan bisa menjadi media da’wah. Contoh yang bisa dikemukakan adalah budaya gotong royong, toleransi, paguyuban dan etika social lainnya yang sudah ada sebelum islam masuk ke Indonesia. Maka, yang sudah masuk kategori ini, kita tinggal mentauhidkan saja.

Kedua, budaya yang menurut Islam keliru, tetapi masih bisa diperbaiki. Contohnya adalah budaya orang menghormati roh leluhur seperti ritual selamatan ketika ada orang mati. Maka NU memproses budaya ini menjadi islam, yaitu selamatannya diganti Laa ilaaha illa allah, makannya atau suguhannya diniati shodaqoh dan tauhidnya ditegakkan, lalu jadilah tradisi Tahlilan seperti dilakukan warga NU sekarang ini.

Ketiga, budaya yang menurut islam tidak bisa ditoleransi lagi, karena memang masuk dalam kategori perbuatan mungkar, menghadapi kasus semacam ini, kita harus memotong. Contohnya adalah khurofat dan sebagainya.

Sebelum Islam masuk Indonesia perbuatan mungkar dan khurofat ini banyak sekali, hingga masih banyak yang belum diberesi, sehingga masih ada yang tersisa. Sebenarnya, ini bukan tanggungjawab NU sebagai ajaran, namun ini merupakan tugas dari da’wah NU yang tersisah. Pemahaman ini penting, karena banyak saudara kita sesama muslim yang salah paham terhadap NU, dan beranggapan bahwa NU melestarikan khurofat itu sendiri. (Risalah NU Edisi 5/Tahun I/ Ramadlon-Syawal 1428 H).