Kisah Taubatnya Ibnu Taimiyah di Tangan Ulama’ Aswaja

FAKTA SEJARAH (Kisah taubatnya Ibnu Taimiyah di tangan Ulama Ahlus sunnah waljama’ah)

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله ذي الحمد المجيد، والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله محمد خير العَبيد، ثم على المُبَشِّرين به وآله وصَحْبِه وخُلفائه وورثته إلى يوم المَزيد. اما بعد :

Sedikit saya akan mengungkap fakta sejarah yang jarang dikupas secara singkat tentang kisah taubatnya seorang figur yang menjadi cikal bakal ajaran wahhabiyah yaitu Ibnu Taimiyyah Al-Harrani. Fakta sejarah ini telah ditulis oleh banyak ulama Ahlus sunnah wal jama’ah yang hidup sezaman dengan Ibnu Taimiyyah bahkan di antara mereka adalah mantan murid dari Ibnu Taimiyyah, seperti Adz-Dzahabi dan Ibnu Syakir. Para ulama yang menulis sejarah Ibnu Taimiyyah adalah orang-orang yang hidup semasa dengan Ibnu Taimiyyah, mereka menyaksikan, bertemu langsung dan bahkan ada yang berguru kepadanya sebelum Ibnu Taimiyyah menyimpang dari ajaran salaf kemudian membebaskan diri setelah mengetahui Ibnu Taimiyyah menyimpang dari ajaran mayoritas umat muslim. Maka mereka para ulama tersebut lebih mengetahui sejarah dan ajaran Ibnu Taimiyyah ketimbang kita dan para wahhabi sekarang ini. Sebelumnya ada baiknya kita mengetahui sedikit komentar para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah tentang ajaran Ibnu Taimiyyah :

قال المحدث الحافظ الفقيه ولي الدين العراقي ابن الشيخ الحفاظ زين الدين العراقي : انه خرق الاجماع في مسائل كثيرة قيل تبلغ ستين مسألة بعضها في الاصول و بعضها في الفروع خالف فيها بعد انعقاد الاجماع عليها. ( الاجوبة المرضية على المسألة المكية

Seorang Ahli Hadits yang mendapat gelar Al-Hafidz Al-Faqih, Waliyuddin Al-Iraqi bin Syaikh Al-Haffadz Zainuddin Al-Iraqi berkata “ Sesungguhnya Ibnu Taimiyyah telah merusak mayoritas umat muslim di dalam banyak permasalahan, dikatakan mencapai 60 permasalahan sebagian mengenai akidah dan sebagian lainnya mengenai furu’. Ia telah menyalahi permasalahan-permasalahan yang telah disepakati oleh umat Islam “. (Al-Ajwibatul Mardhiyyah ‘alal mas-alatil makkiyyah)

قال الشيخ ابن حجر الهيتمي ناقلا المسائل التي خالف فيها ابن تيميه اجماع المسلمين ما نصه : وان العالم قديم بالنوع ولم يزل مع الله مخلوقا دائما فجعله موجبا بالذات لا فاعلا بالاختيارتعالى الله عن ذالك, وقوله بالجسمبة والجهة والانتقال و انه بقدر العرش لااصغر ولا اكبر , تعالى الله عن هذا الافتراء الشنيع القبيخ والكفر البراح الصريح. (الفتاوى الحديثية ص: ١١٦

Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitamy berkata dengan menukil permasalahan-permasalahan Ibnu Taimiyyah yang menyalahi kesepakatan umat Islam, yaitu : (Ibnu Taimiyyah telah berpendapat) bahwa Alam itu bersifat dahulu dengan satu macam, dan selalu makhluk bersama Allah. Ia telah menyandarkan alam dengan Dzat Allah Swt bukan dengan perbuatan Allah secara ikhtiar, sungguh Maha Luhur Allah dari penyifatan yang demikian itu. Ibnu Taimiyyah juga berkeyakinan adanya jisim pada Allah Swt, arah dan perpindahan. Ia juga berkeyakinan bahwa Allah tidak lebih kecil dan tidak lebih besar dari Arsy. Sungguh Allah maha Suci atas kedustaan keji dan buruk ini serta kekufuran yang nyata “. (Al-Fatawa Al-Haditsiyyah : 116)

وقال ايضا ما نصه : واياك ان تصغي الى ما في كتب ابن تيمية وتلميذه ابن القيم الجوزية وغيرهما ممن اتخذ الهه هواه واضله الله على علم و ختم على سمعه وقلبه وجعل على بصره غشاوة فمن يهديه من بعدالله. و كيف تجاوز هؤلاء الملحدون الحدود و تعدواالرسوم وخرقوا سياج الشربعة والحقيقة فظنوا بذالك انهم على هدى من ربهم وليسوا كذالك. (الفتاوى الحديثية ص:۲۰۳

Beliau Syaikh Ibnu Hajar juga berkata “ Maka berhati-hatilah kamu, jangan kamu dengarkan apa yang ditulis oleh Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah dan selain keduanya dari orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah telah menyesatkannya dari ilmu serta menutup telinga dan hatinya dan menjdaikan penghalang atas pandangannya. Maka siapakah yang mampu member petunjuk atas orang yang telah Allah jauhkan ?. Bagaimana orang-orang sesat itu telah melampai batasan-batasan syare’at dan aturan, dan mereka pun juga telah merobek pakaian syare’at dan hakikat, mereka masih menyangka bahwa mereka di atas petunjuk dari Tuhan mereka, padahal sungguh tidaklah demikian “. (Al-Fatawa Al-Haditsiyyah : 203) Seorang ulama besar Syaikh Abu Al-Hasan Ali Ad-Dimasyqi Rh berkata dari ayahnya bahwasanya belia bercerita “ Ketika kami sedang duduk di majlis Ibnu Taimiyyah, dan ia berceramah hingga sampai pada pembahasan ayat Istiwa, ia berkata “ Allah Swt beristiwa di atas arasy-Nya seperti istiwaku ini “, maka manusia kaget dan segera melompat ke arah Ibnu Taimiyyah dengan satu lompatan dan menurunkanya dari kursi kemudian orang-orang segera menampar dan memukulnya dengan sandal-sandal mereka dan selainnya. Mereka membawa Ibnu Taimiyyah ke salah satu hakim, maka berkumpullah di majlis tersebut para ulama dan mereka mulai mengintrogasinya “ Apa dalil dari yang telah engkau katakan tadi ? “, Ibnu Taimiyyah menjawab “ Firman Allah Swt ; Ar-Rahmaanu ‘alal arsyis tawaa “, maka para ulama tertawa dan tahulah mereka bahwa ibnu taimiyyah adalah orang bodoh. Yang tidak mengetahui kaidah-kaidah ilmu. Kemudian para ulama bertanya lagi untuk memastikan urusannya “ Apa pendapatmu tentang firman Allah : فاينما تولوا فثم وجه الله “ Dimanapun kamu menghadap maka di sanalah wajah Allah “ ? Maka Ibnu Taimiyyah menjawab dengan jawaban yang meyakinkan bahwa ia termasuk orang bodoh yang sebenarnya, ia tidak mengetahui apa yang ia katakana dan ia telah tertipu oleh pujian orang-orang awam padanya dan beberapa para ulama jumud yang kosong dari ilmu yang berdasarkan dalil-dalil. (Al-Maqoolat As-Sunniyah : 36) Sangat banyak hujatan para ualam Aswaja (Ahlus sunnah wal jama’ah) kepada Ibnu Taimiyyah mengenai ajaran-ajarannya yang menyimpang dari mayoritas ulama dan umat Islam, bahkan para ulama sempat mengarang kitab-kitab untuk membantaha ajaran-ajarannya dan demi menyelamatkan umat Islam dari kesesatannya. Di antaranya : Al-Qâdlî al-Mufassir Badruddin Muhammad ibn Ibrahim ibn Jama’ah asy-Syafi’i (w 733 H). Al-Qâdlî Ibn Muhammad al-Hariri al-Anshari al-Hanafi. Al-Qâdlî Muhammad ibn Abi Bakr al-Maliki. Al-Qâdlî Ahmad ibn Umar al-Maqdisi al-Hanbali. Ke empat ulama yang juga menjabat qodhi inilah yang merekomendasikan fatwa untuk memenjarakan Ibnu Taimiyyah. Dan sempat berpindah-pindah penjara. Syekh Shaleh ibn Abdillah al-Batha-ihi, Syekh al-Munaibi’ ar-Rifa’i. salah seorang ulama terkemuka yang telah menetap di Damaskus (w 707 H). Syekh Kamaluddin Muhammad ibn Abi al-Hasan Ali as-Sarraj ar-Rifa’i al-Qurasyi asy-Syafi’i. salah seorang ulama terkemuka yang hidup semasa dengan Ibn Taimiyah sendiri. • Tuffâh al-Arwâh Wa Fattâh al-Arbâh Ahli Fiqih dan ahli teologi serta ahli tasawwuf terkemuka di masanya; Syekh Tajuddin Ahmad ibn ibn Athaillah al-Iskandari asy-Syadzili (w 709 H). Pimpinan para hakim (Qâdlî al-Qudlât) di seluruh wilayah negara Mesir; Syekh Ahmad ibn Ibrahim as-Suruji al-Hanafi (w 710 H) • I’tirâdlât ‘Alâ Ibn Taimiyah Fi ‘Ilm al-Kalâm. Pimpinan para hakim madzhab Maliki di seluruh wilayah negara Mesir pada masanya; Syekh Ali ibn Makhluf (w 718 H). Di antara pernyataannya sebagai berikut: “Ibn Taimiyah adalah orang yang berkeyakinan tajsîm, dan dalam keyakinan kita barangsiapa berkeyakinan semacam ini maka ia telah menjadi kafir yang wajib dibunuh”. Syekh al-Faqîh Ali ibn Ya’qub al-Bakri (w 724 H). Ketika suatu waktu Ibn Taimiyah masuk wilayah Mesir, Syekh Ali ibn Ya’qub ini adalah salah seorang ulama terkemuka yang menentang dan memerangi berbagai faham sesatnya. Al-Faqîh Syamsuddin Muhammad ibn Adlan asy-Syafi’i (w 749 H). Salah seorang ulama terkemuka yang hidup semasa dengan Ibn Taimiyah yang telah mengutip langsung bahwa di antara kesesatan Ibn Taimiyah mengatakan bahwa Allah berada di atas arsy, dan secara hakekat Dia berada dan bertempat di atasnya, juga mengatakan bahwa sifat Kalam Allah berupa huruf dan suara. Imam al-Hâfizh al-Mujtahid Taqiyuddin Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki (w 756 H). • al-I’tibâr Bi Baqâ’ al-Jannah Wa an-Nâr. • ad-Durrah al-Mudliyyah Fî ar-Radd ‘Alâ Ibn Taimiyah. • Syifâ’ as-Saqâm Fî Ziyârah Khair al-Anâm. • an-Nazhar al-Muhaqqaq Fi al-Halaf Bi ath-Thalâq al-Mu’allaq. • Naqd al-Ijtimâ’ Wa al-Iftirâq Fî Masâ-il al-Aymân Wa ath-Thalâq. • at-Tahqîq Fî Mas-alah at-Ta’lîq. • Raf’u asy-Syiqâq Fî Mas’alah ath-Thalâq. Al-Muhaddits al-Mufassir al-Ushûly al-Faqîh Muhammad ibn Umar ibn Makki yang dikenal dengan sebutan Ibn al-Murahhil asy-Syafi’i (w 716 H). Di masa hidupnya ulama besar ini telah berdebat dan memerangi Ibn Taimiyah. Imam al-Hâfizh Abu Sa’id Shalahuddin al-‘Ala-i (w 761 H). Imam terkemuka ini mencela dan telah memerangi Ibn Taimiyah. Lihat kitab Dakhâ-ir al-Qashr Fî Tarâjum Nubalâ’ al-‘Ashr karya Ibn Thulun pada halaman 32-33. • Ahâdîts Ziyârah Qabr an-Naby. Pimpinan para hakim (Qâdlî al-Qudlât) kota Madinah Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Musallam ibn Malik ash-Shalihi al-Hanbali (w 726 H). Imam Syekh Ahmad ibn Yahya al-Kullabi al-Halabi yang dikenal dengan sebutan Ibn Jahbal (w 733 H), semasa dengan Ibn Taimiyah sendiri. • Risâlah Fî Nafyi al-Jihah. Al-Qâdlî Kamaluddin ibn az-Zamlakani (w 727 H). Ulama besar yang semasa dengan Ibn Taimiyah ini telah memerangi seluruh kesesatan Ibn Taimiyah, hingga beliau menuliskan dua risalah untuk itu. Pertama dalam masalah talaq, dan kedua dalam masalah ziarah ke makam Rasulullah. Al-Qâdlî Shafiyuddin al-Hindi (w 715 H), semasa dengan Ibn Taimiyah sendiri. Al-Faqîh al-Muhaddits Ali ibn Muhammad al-Baji asy-Syafi’i (w 714 H). Telah memerangi Ibn Taimiyah dalam empat belas keyakinan sesatnya, dan telah mengalahkan serta menundukannya. Sejarawan terkemuka (al-Mu-arrikh) al-Faqîh al-Mutakallim al-Fakhr ibn Mu’allim al-Qurasyi (w 725 H). • Najm al-Muhtadî Wa Rajm al-Mu’tadî Al-Faqîh Muhammad ibn Ali ibn Ali al-Mazini ad-Dahhan ad-Damasyqi (w 721 H). • Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ Ibn Taimiyah Fî Mas-alah ath-Thalâq. • Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ Ibn Taimiyah Fî Mas-alah az-Ziayârah Al-Faqîh Abu al-Qasim Ahmad ibn Muhammad ibn Muhammad asy-Syirazi (w 733 H). • Risâlah Fi ar-Radd ‘Alâ Ibn Taimiyah Al-Faqîh al-Muhaddits Jalaluddin al-Qazwini asy-Syafi’i (w 739 H). As-Sulthan Ibn Qalawun (w 741 H). Beliau adalah Sultan kaum Muslimin saat itu, telah menuliskan surat resmi prihal kesesatan Ibn Taimiyah. Al-Hâfizh adz-Dzahabi (w 748 H) yang merupakan murid Ibn Taimiyah sendiri. • Bayân Zaghl al-‘Ilm Wa ath-Thalab. • an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah. Al-Mufassir Abu Hayyan al-Andalusi (745 H). • Tafsîr an-Nahr al-Mâdd Min al-Bahr al-Muhîth Syekh Afifuddin Abdullah ibn As’ad al-Yafi’i al-Yamani al-Makki (w 768 H). Al-Faqîh Syekh Ibn Bathuthah, salah seorang ulama terkemuka yang telah banyak melakukan rihlah (perjalanan). Al-Faqîh Tajuddin Abdul Wahhab ibn Taqiyuddin Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki (w 771 H). • Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ Seorang ulama ahli sejarah terkemuka (al-Mu-arrikh) Syekh Ibn Syakir al-Kutubi (w 764 H). • ‘Uyûn at-Tawârikh. Syekh Umar ibn Abi al-Yaman al-Lakhmi al-Fakihi al-Maliki (w 734 H). • at-Tuhfah al-Mukhtârah Fî ar-Radd ‘Alâ Munkir az-Ziyârah Al-Qâdlî Muhammad as-Sa’di al-Mishri al-Akhna’i (w 750 H). • al-Maqâlât al-Mardliyyah Fî ar-Radd ‘Alâ Man Yunkir az-Ziyârah al-Muhammadiyyah, dicetak satu kitab dengan al-Barâhîn as-Sâthi’ah karya Syekh Salamah al-Azami. Syekh Isa az-Zawawi al-Maliki (w 743 H). • Risâlah Fî Mas-alah ath-Thalâq. Syekh Ahamad ibn Utsman at-Turkimani al-Jauzajani al-Hanafi (w 744 H). • al-Abhâts al-Jaliyyah Fî ar-Radd ‘Alâ Ibn Taimiyah. Imam al-Hâfizh Abdul Rahman ibn Ahmad yang dikenal dengan Ibn Rajab al-Hanbali (w 795 H). • Bayân Musykil al-Ahâdîts al-Wâridah Fî Anna ath-Thalâq ats-Tsalâts Wâhidah. Imam al-Hâfizh Ibn Hajar al-Asqalani (w 852 H). • ad-Durar al-Kâminah Fî A’yân al-Mi-ah ats-Tsâminah. • Lisân al-Mizân. • Fath al-Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri. • al-Isyârah Bi Thuruq Hadîts az-Ziyârah. Imam al-Hâfizh Waliyuddin al-Iraqi (w 826 H). • al-Ajwibah al-Mardliyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-As-ilah al-Makkiyyah. Al-Faqîh al-Mu-arrikh Imam Ibn Qadli Syubhah asy-Syafi’i (w 851 H). • Târîkh Ibn Qâdlî Syubhah. Al-Faqîh al-Mutakallim Abu Bakar al-Hushni penulis kitab Kifâyah al-Akhyâr (829 H). • Daf’u Syubah Man Syabbah Wa Tamarrad Wa Nasaba Dzâlika Ilâ Imam Ahmad. Salah seorang ulama terkemuka di daratan Afrika pada masanya; Syekh Abu Abdillah ibn Arafah at-Tunisi al-Maliki (w 803 H). Al-‘Allâmah Ala’uddin al-Bukhari al-Hanafi (w 841 H). Beliau mengatakn bahwa Ibn Taimiyah adalah seorang yang kafir. Beliau juga mengkafirkan orang yang menyebut Ibn Taimiyah dengan Syekh al-Islâm jika orang tersebut telah mengetahui kekufuran-kekufuran Ibn Taimiyah. Pernyataan al-’Allâmah Ala’uddin al-Bukhari ini dikutip oleh Imam al-Hâfizh as-Sakhawi dalam kitab adl-Dlau’ al-Lâmi’. Dan masih banyak lagi ulama yang lainnya. ******* Sekarang marilah kita simak penuturan seorang ulama yang sezaman dengan Ibnu Taimiyyah yaitu Ibnu Syakir Al-Kutuby dalam salah satu kitab tarikhnya juz 20 yang telah diabadikan oleh seorang ulama besar dari kalangan Ahklus sunnah yang terkenal di seluruh penjuru dunia yaitu Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Astqolani dalam kitabnya “ Ad-Duroru Al-Kaaminah “ dan beliau juga penyarah kitab Shohih Bukhori yang dinamakan Fathu Al-Bari. Berikut penuturan beliau yang begitu panjang namun saya singkat dengan tanpa menghilangkan maksud tujuannya : Sidang Pertama : “ Di tahun 705 di hari ke delapan bulan Rajab, Ibnu Taimiyyah disidang dalam satu majlis persidangan yang dihadiri oleh para penguasa dan para ulama ahli fiqih di hadapan wakil sulthon. Maka Ibnu Taimiyyah ditanya tentang aqidahnya, lalu ia mengutarakan sedikit dari aqidahnya. Kemudian dihadirkan kitab aqidahnya Al-Wasithiyyah dan dibacakan dalam persidangan, maka terjadilah pembahasan yang banyak dan masih ada sisa pembahasan yang ditunda untuk sidang berikutnya. Dan di tahun 707 hari ke-6 bulan Rabi’ul Awwal hari kamis, Ibnu Taimiyyah menyatakan taubatnya dari akidah dan ajaran sesatnya di hadapan para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah dari kalangan empat madzhab, bahkan ia membuat perjanjian kepada para ulama dan hakim dengan tertulis dan tanda tangan untuk tidak kembali ke ajaran sesatnya, namun setelah itu ia pun masih sering membuat fatwa-fatwa nyeleneh dan mengkhianati surat perjanjiannya hingga akhirnya ia mondar-mandir masuk penjara dan wafat di penjara sebagaimana nanti akan diutarakan ucapan dari para ulama. Berikut ini pernyataan Ibnu taimiyyah tentang pertaubatannya :

الحمد الله، الذي أعتقده أن في القرءان معنى قائم بذات الله وهو صفة من صفات ذاته القديمة الأزلية وهو غير مخلوق، وليس بحرف ولا صوت، وليس هو حالا في مخلوق أصلا ولا ورق ولا حبر ولا غير ذلك، والذي أعتقده في قوله: ? الرحمن على آلعرش آستوى ? [سورة طه] أنه على ما قال الجماعة الحاضرون وليس على حقيقته وظاهره، ولا أعلم كنه المراد به، بل لا يعلم ذلك إلا الله، والقول في النزول كالقول في الاستواء أقول فيه ما أقول فيه لا أعرف كنه المراد به بل لا يعلم ذلك إلا الله، وليس على حقيقته وظاهره كما قال الجماعة الحاضرون، وكل ما يخالف هذا الاعتقاد فهو باطل، وكل ما في خطي أو لفظي مما يخالف ذلك فهو باطل، وكل ما في ذلك مما فيه إضلال الخلق أو نسبة ما لا يليق بالله إليه فأنا بريء منه فقد تبرأت منه وتائب إلى الله من كل ما يخالفه وكل ما كتبته وقلته في هذه الورقة فأنا مختار فى ذلك غير مكره. كتبه أحمد بن تيمية) وذلك يوم الخميس سادس شهر ربيع الآخر سنة سبع وسبعمائة

“ Segala puji bagi Allah yang aku yakini bahwa di dalam Al-Quran memiliki makna yang berdiri dengan Dzat Allah Swt yaitu sifat dari sifat-sifat Dzat Allah Swt yang maha dahulu lagi maha azali dan al-Quran bukanlah makhluq, bukan berupa huruf dan suara, bukan suatu keadaan bagi makhluk sama sekali dan juga bukan berupa kertas dan tinta dan bukan yang lainnya. Dan aku meyakini bahwa firman Allah Swt “ الرحمن على آلعرش آستوى adalah apa yang telah dikatakan oleh para jama’ah (ulama) yang hadir ini dan bukanlah istawa itu secara hakekat dan dhohirnya, dan aku pun tidak mengetahui arti dan maksud yang sesungguhnya kecuali Allah Swt, bukan istawa secara hakekat dan dhohir seperti yang dinyatakan oleh jama’ah yang hadir ini. Semua yang bertentangan dengan akidah ini adalah batil. Dan semua apa yang ada dalam tulisanku dan ucapanku yang bertentangan dari semua itu adalah batil. Semua apa yang telah aku tulis dan ucapkan sebelumnya adalah suatu penyesatan kepada umat atau penisbatan sesuatu yang tidak layak bagi Allah Swt, maka aku berlepas diri dan menjauhkan diri dari semua itu. Aku bertaubat kepada Allah dari ajaran yang menyalahi-Nya. Dan semua yang aku dan aku ucapkan di kertas ini maka aku dengan suka rela tanpa adanya paksaan “ Telah menulisnya : (Ahmad Ibnu Taimiyyah) Kamis, 6-Rabiul Awwal-707 H. Di atas surat pernyaan itu telah ditanda tangani di bagian atasnya oleh Ketua hakim, Badruddin bin jama’ah. Pernyataan ini telah disaksikan, diakui dan ditanda tangani oleh : – Muhammad bin Ibrahim Asy-Syafi’i, beliau menyatakan : اعترف عندي بكل ما كتبه بخطه في التاريخ المذكور (Aku mengakui segala apa yang telah dinyatakan oleh Ibnu Taimiyyah ditanggal tersebut) – Abdul Ghoni bin Muhammad Al-Hanbali : اعترف بكل ما كتب بخطه (Aku mengakui apa yang telah dinyatakannya) – Ahmad bin Rif’ah – Abdul Aziz An-Namrowi : أقر بذلك (Aku mengakuinya) – Ali bin Miuhammad bin Khoththob Al-Baji Asy-Syafi’I : أقر بذلك كله بتاريخه (Aku mengakui itu dengan tanggalnya) – Hasan bin Ahmad bin Muhammad Al-Husaini : جرى ذلك بحضوري في تاريخه (Ini terjadi di hadapanku dengan tanggalnya) – Abdullah bin jama’ah (Aku mengakuinya) – Muhammad bin Utsman Al-Barbajubi : أقز بذلك وكتبه بحضوري (Aku mengakuinya dan menulisnya dihadapanku). Mereka semua adalah para ulama besar di masa itu salah satunya adalah syaikh Ibnu Rif’ah yang telah mengarang kitab Al-Matlabu Al-‘Aali “ syarah dari kitab Al-Wasith imam Ghozali sebanyak 40 jilid. Namun faktanya Ibnu Taimiyah tidak lama melanggar perjanjian tersebut dan kembali lagi dengan ajaran-ajaran menyimpangnya. Sampai-sampai dikatakan oleh seorang ulama : لكن لم تمض مدة على ذلك حتى نقض ابن تيمية عهوده ومواثيقه كما هو عادة أئمة الضلال ورجع إلى عادته القديمة في الإضلال. “ Akan tetapi tidak lama setelah itu Ibnu Taimiyyah melanggar perjanjian dan pernyataannya itu sebegaimana kebiasaan para imam sesat dan ia kembali pada kebiasaan lamanya di dalam menyesatkan umat “
Sidang kedua : Diadakan hari jum’ah hari ke-12 dari bulan Rajab. Ikut hadir saat itu seorang ulama besar Shofiyuddin Al-Hindiy. Maka mulailah pembahasan, mereka mewakilkan kepada syaikh Kamaluddin Az-Zamalkani dan akhirnya beliau memenangkan diskusi itu, beliau telah membungkam habis Ibnu Taimiyyah dalam persidangan tersebut. Ibnu Taimiyyah merasa khawatir atas dirinya, maka ia member kesaksian pada orang-orang yang hadir bahwa ia mengaku bermadzhab Syafi’I dan beraqidah dengan aqidah imam Syafi’i. Maka orang-orang ridho dengannya dan mereka pun pulang. Sidang ketiga : Sebelumnya Ibnu Taimiyyah mengaku bermadzhab Syafi’I, namun pada kenyataannya ia masih membuat ulah dengan fatwa-fatwa yang aneh-aneh sehingga banyak mempengaruhi orang lain. Maka pada akhir bulan Rajab, para ulama ahli fiqih dan para qodhi berkumpul di satu persidangan yang dihadiri wakil shulthon saat itu. Maka mereka semua saling membahas tentang permasalahan aqidah dan berjalanlah persidangan sbgaiamana persidangan yang pertama. Setelah beberapa hari datanglah surat dari sulthon untuk berangkat bersama seorang utusan dari Mesir dengan permintaan ketua qodhi Najmuddin. Di antara isi surat tersebut berbunyi “ Kalian mengetahui apa yang terjadi di tahun 98 tentang aqidah Ibnu Taimiyyah “. Maka mereka bertanya kepada orang-orang tentang apa yang terjadi pada Ibnu Taimiyyah. Maka orang-orang mendatangkan aqidah Ibnu Taimiyyah kepada qodhi Jalaluddin Al-Quzwaini yang pernah dihadapkan kepada ketua qodhi imamuddin. Maka mereka membincangkan masalah ini kepada Raja supaya mengirim surat untuk masalah ini dan raja pun mnyetujuinya. Kemudian setelah itu Raja memerintahkan syamsuddin Muhammad Al-Muhamadar Ibnuuntuk mendatangi Ibnu Taimiyyah dan ia pun berkata kepada Ibnu Taimiyyah “ Raja telah memerintahkanmu untuk pergi esok hari. Maka Ibnu Taimiyyah berangkat ditemani oleh dua Abdullah dan Abdurrahman serta beberapa jama’ahnya. Siding keempat : Maka pada hari ketujuh bulan Syawwal sampailah Ibnu Taimiyyah ke Mesir dan diadakan satu persidangan berikutnya di benteng Kairo di hadapan para qodhi dan para ulama ahli fiqih dari empat madzhab. Kemudian syaikh Syamsuddin bin Adnan Asy-Syafi’I berbicara dan menyebutkan tentang beberapa fasal dari aqidah Ibnu Taimiyyah. Maka Ibnu Taimiyyah memulai pembicaraan dengan pujian kepada Allah Swt dan berbicara dengan pembicaraan yang mengarah pada nasehat bukan pengklarifikasian. Maka dijawa “ Wahai syaikh, apa yang kau bicarakan kami telah mengetahuinya dan kami tidak ada hajat atas nasehatmu, kami telah menampilkan pertanyaan padamu maka jawablah ! “. Ibnu Taimiiyah hendak mengulangi pujian kepada Allah, tapi para ulama menyetopnya dan berkata “ Jawablah wahai syaikh “. Maka Ibnu Taimiyyah terdiam “. Dan para ulama mengulangi pertanyaan berulang-ulang kali tapi Ibnu Taimiyyah selalu berbeli-belit dalam berbicara. Maka seorang qodhi yang bermadzhab Maliki memerintahkannya untuk memenjarakan Ibnu Taimiyyah di satu ruangan yang ada di benteng tersebut bersama dua saudaranya yang ikut bersamanya itu. Begitu lamanya ia menetap di penjara dalam benteng tersebut hingga ia wafat dalam penjara pada malam hari tanggal 22, Dzulqo’dah tahun 728 H. Demikian lah sejarah singkat Ibnu Taimiyah seorag figure dari cikal-bakal munculnya ajaran wahhabiyyah dan seorang ulama andalan yang dijadikan rujukan oleh para ulama wahhabi. Semoga hal ini menjadi renungan bagi para pengikut wahhabi… (Insya Allah (jika Allah meanqdirkan umur panjang), berikutnya saya akan menulis sejarah lengkapnya Ibnu Taimiyah dan saya tampikan teks surat-surat dari para hakim saat itu dan juga surat dari para ulama besar serta mantan-mantan muridnya yang juga sempat menulis surat nasehat untuk Ibnu Taimiyyah.) وصلى الله على سيدنا محمد و علي اله وصحبه اجمعين والحمد لله رب العالمين (Ibnu Abdillah Al-Katibiy)

30 thoughts on “Kisah Taubatnya Ibnu Taimiyah di Tangan Ulama’ Aswaja”

  1. Artikelmu bagaikan gula yg lngsng dikerubuti semut..yg sabar yaaa..

    yaa..yaa..memang begitulah kita setiap ada sesuatu yg tak sesuai dgn apa yg kita yakini krna keterbatasan ilmu lngsng ribut2..

  2. sepertinya yang menulis di blog ini tidak suka dan bertentangan dengan yang disampaikan ibnu taimiyah. orang-orang yang membantah ibnu taimiyah tidak terkenal sama sekali. apapun yang ditulis itu kepentingan anda, tetapi saya punya pegangan yang haq dari Allah dan Rasul yaitu AlQur’an dan Assunnah/hadits. cukuplah berpegang pada keduanya maka saya tidak akan sesat. Biarlah Allah SWT yang menilai dan mengadilinya. kita hanyalah hamba Nya yang penuh dosa, mari kita introsfeksi diri dan bertaubat kawan.

  3. Keyakinan Sufi sama dengan keyakinan Syi’ah Rafidhah, diantaranya :
    Lihat video di : http://www.youtube.com/watch?v=bOgV6HqquWA
    “Kencing dan tinja para imam bukanlah sesuatu yg menjijikkan, tidak berbau busuk, tidak pula termasuk kotoran. Bahkan keduanya bagaikan misik yang sangat harum. Barangsiapa yang meminum kencing mereka, (memakan) tinja mereka, dan darah mereka, Allah akan haramkan padanya api neraka dan wajib baginya masuk surga”

    [Anwaarul-Wilaayah oleh Ayatullah Al-Aakhunid Mullaa Zainal-‘Aabidiin Al-Kalbaayakaaniy, hal. 440].

  4. Adminnya ini initialnya DIHYA adalah seorang munafiqun ilmunya dangkal tdk bertanggungjawab tdk pernah berkomentar membela artikelnya sendiri, melainkan lepas tangan,,,,,DIHYA ini Syiah mengaku aswaja, atau anakbuahnya Idarham Pakde Siraj Liberalis

  5. Paling2 ini adalah blog kedengkian kepada Ibnu Taimiyah dari dari orang2 yang suka bertawasul dg kubur( antum murid nya gus…gus ya???), lihat saja didaerah sono kalau kuburan selalu ramai sambil baca do’a mohon jodoh,rizki dsb makanya tidak heran bila ada tanah longsor, banjir, gunung meletus nah…….itu adalah azab dari Allah utk merka yg senang bertawasul dg kubur, tunggu saja azab berikut untuk antum!!!

  6. Membaca tulisan Anda, pastilah Anda ini seorang aktifis anti agama yang menghalalkan segala cara. Sadarlah … sebelum maut menjemput Anda.

  7. Mudah-mudahan Saudara pemilik Blog ini bukanlah seorang dari sekian banyak aktifis antiagama yang senantiasa berupaya mengacaukan ajaran suatu agama dengan menghalalkan segala cara. Tapi kalau iya …, sadarlah, upaya Anda akan sia-sia, sedangkan Anda sendiri … semakin tersesat ….

  8. @Fadhel Ahmad/; “Saya adalah orang yang juga menkaji kitab2 Syaikhul islam Ibnu Taimiyah makanya saya geli dengan tuduhan2 tsb krn saya tdk pernah mendapati fakta dlm tuduhan itu dan tuduhan2 yang diarahkan kpd ulama yang lain selain ibnu taimiyah”
    Bung Fadhel Ahmad; saya belum pernah menkaji kitab2 Syaikhul islam Ibnu Taimiyah, Tolong di tampilkan saja pendapat Ibnu Taimiyah tentang perkara yang dibahas disertai copy pdf tekstualnya. Supaya Informasi berimbang.

  9. @Sayyaf /: “Jika memang ajaran Ibnu Taimiyah memang sesat, mana mungkin ilmu beliau di kenang dan di pelajari umat zaman sekarang”. dengan analog tersebut maka akan sama :
    “Jika memang ajaran Budha memang sesat, mana mungkin ilmu beliau di kenang dan di pelajari umat zaman sekarang”
    “Jika memang ajaran Paus Paulus memang sesat, mana mungkin ilmu beliau di kenang dan di pelajari umat zaman sekarang”
    “Jika memang ajaran Kong Hu Cu memang sesat, mana mungkin ilmu beliau di kenang dan di pelajari umat zaman sekarang”
    “Jika memang ajaran Martin Luther King memang sesat, mana mungkin ilmu beliau di kenang dan di pelajari umat zaman sekarang”
    Bung Sayyaf….anda memang cerdas dalam berlogika.

  10. Wah, parah… sama orang yg ga dikenal kok berani ikut mengkafirkan. padahal orang yg dikafirkan tadi menghabiskan sbagian besar umurnya utk mencari ilmu… masyaALLAH, kita nyari ilmu aja ga jauh2 dr sejam dua jam, semangat amat mbuka kejelekan ulama. . . yg sibuk buka-tutup internet, ayo sekarang tutup internetnya, trus datangi tu para ulama yg fakih dn carilah ilmu dr beliau. muslim yg cinta menuntut ilmu itu benci mencela para pengajar ilmu, walaupun bertentangan.

  11. beragama beramal yang rasional sesuai tuntunan rosulullah, bukan dari cerita yang dianggap sebagai tuntunan sekalipun itu oleh para kiai. wallahu alam

  12. puas bnget setelah membaca kutiban ni sangat bermanfaat….sya snagat pham bahwasnya mentakfirkan sangat dilarang akan tetapi ketika kita mentakfirkan mempunyai dalil2 yang kuat tidak maslah sebagaimana tertuliskan didalam Aqidah Thohawiyah beliau adalah termasuk Aqidah ahlissunnah Waljaama’ah yaitu Aqidahnya imam Abu Hanifah juga termasuk dari ulama yang mu’tabar yang artinya ” Barang siapa yang mensifati Alloh dengan sifat kemanusian maka dia menjadi kafir” dalil ni menunjukan kpada kita bhwasnya dilarang untuk mensifati Alloh dengan makhluknya sudah jelas dalam Al-Qur’an ليس كمثله شيئ dalam surat ini Alloh menta’kidkan (menguatkan) bahwasanya sesunguhnya Alloh tidak bisa diserupakan dengan apapun dari segi apapun,,,,penaukidannya mengunakan huruf ك dan mengunakan kata مثل yang dimana kada kedua tersebut mempunyai satu arti yaitu seperti, serupa , semisal….sekian terima kasih…yang pastinya semoga kita semua ditunjukkan oleh Alloh kejalan yang benar Amiiin,,,

  13. Setelah ana baca posting ini.. Ternyata terbukti tulisan antum berlebih-lebihan dalam membenci Ibnu Taimiyah. Pernyataan takfir pada seseorang membawa konsekwensi berat akh… jangan suka memvonis kafir jika tak tahu ilmu. Harus kita akui.. banyak yang membenci Ibnu Taimiyah…, terutama ulama2 yang berfaham sufisme. Jika memang ajaran Ibnu Taimiyah memang sesat, mana mungkin ilmu beliau di kenang dan di pelajari umat zaman sekarang. Jelas terbukti pemilik posting ini sangat membenci kaum salafi. Antum orang nahdliyin yaach…??

  14. Saya adalah orang yang juga menkaji kitab2 Syaikhul islam Ibnu Taimiyah makanya saya geli dengan tuduhan2 tsb krn saya tdk pernah mendapati fakta dlm tuduhan itu dan tuduhan2 yang diarahkan kpd ulama yang lain selain ibnu taimiyah

    1. Bung Fadhel ahmad; tolong ditampilkan hujjah Ibnu Taimiyah tentang pokok masalah yang dibahas dalam bolg ini, disertai copy pdf teks bukunya. Supaya Informasi berimbang. Terimakasih

  15. siapapun antum yang menyalahkan ibnu taimiyah,itu di karenakan anda tidak memiliki ilmu dan anda tadak paham tentang beliau dan kitabnya,siapapun dia jika dia muslim dan taat kpda Allah dan rosulnya maka wajib bagi kita untuk menghormati dan dan menjaga kepribadiannya apalagi dia seorang ulama,maka kalau anda tidak paham dan tidak memiliki ilmu dalam bidang tertentu anda jangan terlalu banyak mencela dan komentar,diam lebih baik buat kita jika kita tidak menguasai bidang ilmu tersebut.

  16. “Mengakap kebencian mereka begitu beratnya terhadap Syaikhul Islam Ibn Tamiyah?”

    Berikut penuturan Ibnu Katsir dalam Kitab Al-Bidayah Wa an-Nihayah pada peristiwa yang terjadi sekitar tahun 705 Hijriah terkait Dengan ibnu Taimiyah

    وكان للشيخ تقي الدين من الفقهاء جماعة يحسدونه لتقدمه عند الدولة وانفراده بالأمر بالمعروف والنهي عن المنكر وطاعة الناس له ومحبتهم له وكثرة أتباعه وقيامه في الحق وعلمه وعمله ثم وقع بدمشق خبط كثير وتشويش بسبب غيبة نائب السلطنة وطلب القاضي جماعة من أصحاب الشيخ وعزر بعضهم ثم اتفق ان الشيخ جمال الدين المزي الحافظ قرأ فصلا بالرد على الجهمية من كتاب أفعال العباد للبخاري تحت قبة النسر بعد قراءة ميعاد البخاري بسبب الاستسقاء فغضب بعض الفقهاء الحاضرين وشكاه إلى القاضي الشافعي ابن صصرى وكان عدو الشيخ فسجن المزي فبلغ الشيخ تقي الدين فتألم لذلك وذهب إلى السجن فأخرجه منه بنفسه وراح إلى القصر فوجد القاضي هنالك فتقاولا بسبب الشيخ جمال الدين المزي فحلف ابن صصرى لا بد أن يعيده إلى السجن وإلا عزل نفسه فأمر النائب باعادته تطييبا لقلب القاضي فحبسه عنده في القوصية أياما ثم أطلقه ولما قدم نائب السلطنة ذكر له الشيخ تقي الدين ما جرى في حقه وحق اصحابه في غيبته فتألم النائب لذلك ونادى في البلد أن لا يتكلم احد في العقائد ومن عاد إلى تلك حل ماله ودمه ورتبت داره وحانوته فسكنت الامور

    Ada sekolompok fuqaha yang mendengki Ibnu Taimiyah karena kedudukan tingginya dalam kenegaraan dan tindak-tanduknya yang sendirian menyeru kepada kebaikan dan melarang kemungkaran serta ketaatan dan cinta manusia kepadanya. Ditambah lagi dengan banyaknya pengikut, ilmu, dan amal baik.

    Terjadilah beberapa ketegangan di Damaskus sehubungan dengan absennya pejabat perwakilan sulthan. Sekelompok orang meminta Qadhi untuk mengadili Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya serta menahan sebagian dari mereka.

    Disaat yang sama, al hafidz Al Mizzi membaca sebuah pasal tentang bantahan terhadap Jahmiyah dari kitab [Khalqu] Af’alil Ibad milik Imam Bukhari dibawah Qubah Nashr (masjid Umawi,pent). Setelah membaca janji Imam bukhari yang disebabkan Oleh istisqa’ maka marahlah beberapa hadirin lalu mengadukannya kepada Qadhi Syafii Ibnu Shasra yang merupakan Musuh syaikh [ibnu Taimiyah]. Maka ditahanlah Al Mizzi. Berita tersebut sampai kepada Syaikh Taqiyuddin [Ibnu Taimiyah]. Berita tersebut menyeakiti perasaan beliau dan beliau langsung bergegas menuju penjara dan membebaskannya. Ibnu Taimiyah kemudian pergi menuju Istana dan bertemu dengan dengan Qadhi [Shasra] disana. Mereka kemudian berdebat terkait dengan syaikh Jamaluddi Al Mizzi. Ibnu Shasra bersumpah untuk kembali memenjarakan Al Mizzi atau ia mengundurkan diri sebagai Qadhi. [kabar sampai ke Mesir] Demi mendengar sumpah itu, maka pejabat perwakilan Sulthan memerintahkan untuk kembali memenjarakan al Mizzi untuk menyenangkan hati Qadhi [Ibnu Shasra] di kota Qusay [Mesir] selama beberapa hari kemudian melepaskannya kemballi.

    Ketika pejabat perwakilan kesulthanan kembali ke Damaskus, Ibnu Taimiyah menceritakan kepadanya tentang hal yang terjadi kepadanya dan murid-muridnya ketika dia tidak ada. Pejabat tersebut sangat sakit hati kemudian mengumumkan di Damaskus bahwa tidak boleh seorangpun berdebat seputar Aqidah. Siapapun yang melakukannya maka halal harta dan darahnya serta rumah dan tokonya akan diratakan dengan tanah. Setelah itu keadaan menjadi tenang.

    Cerita ini juga dituturkan Oleh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy dalam Kitab Dur Al-Kaminah 170/1

    في ثاني عشر رجب قرأ المزي فصلا من كتاب أفعال العباد للبخاري في الجامع فسمعه بعض الشافعية فغضب وقالوا نحن المقصودون بهذا ورفعوه إلى القاضي الشافعي فأمر بحبسه فبلغ ابن تيمية فتوجه إلى الحبس فأخرجه بيده

    Pada 12 Rajab, Hafizh Al-Mizzi membacakan Kitab Khalq Af’al ‘Ibad karangan Imam Bukhari di Masjid Umawi. Beberapa Syafi’iyah mendengarkannya dan menjadi marah. Mereka mengatakan “Kitalah yang sedang dibicarakan”. Mereka kemudian mengadukannya [Hafizh Al-Mizzi] ke pengadilan melalui Qadhi Syafi’i dan ia memerintahkan agar beliau [Hafizh Al-Mizzi] ditahan. Berita ini sampai kepada Syaikh Ibnu Taimiyah, kemudian ia bergegas kepenjara dan membebaskannya sendirian.

    Kisah ini nampaknya sangat masyhur, terbukti banyak Ahli sejarah yang mencatat dalam kitab mereka. Selain dua ulama diatas, ulama lain yang mencatat kisah tersebut adalah As Sakhawi dalam I’lanut Taubih, As Shafadhi, dan Ibnu Abdil hadi Az Zahabi dalam Tarikh Islam.

    Sangat jelas kecintaan Ibnu Taimiyah terhadap al Mizzi dalam hal ini. Semoga Allah mengumpulkan kita dan beliau disyurga Jannatun naim.

    Kekeliruan Asyairah

    Apa gerangan yang membuat Qadhi Syafii Marah dengan kitab karangan orang Sekaliber Imam Bukhari?

    Kita Tahu bahwa Ibnu Taimiyah dan Murid-muridnya mendapat ujian berat di Damaskus terkait dengan mazhab Salaf yang mereka bawa bertentangan dengan mazhab Asyariyah yang dianut oleh banyak ulama pemerintah saat itu.

    Ibnu katsir menceritakan kisah tersebut dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi ditahun 705 hijriah sehubungan dengan hal-hal yang terjadi kepada gurunya ibnu Taimiyah. Setting cerita tersebut secara jelas mengisahkan ketegangan-ketegangan antara ibnu Taimiyah dan murid-muridnya dengan ulama-ulama Asyairah yang membuatnya diadili beberapa kali dan dipenjara selanjutnya dipindahkan kemesir.

    Sebagai orang dekat ibnu Taimiyah, Al Mizzi kena getahnya karena membacakan kitab Khalqu Af’alil ibad yang membahas beberapa permasalahan Aqidah seperti ketinggian Allah, Kalamullah, rukyah, dan qadar.

    Sebagaimana Kita ketahui bahwa Asyairah menyatakan bahwa Alqur’an adalah kalam nafsi. Konsekwensinya mereka meyakini bahwa Al qur’an yang diturunkan lewat Jibril adalah interpretasi dari jibril yang otomatis adalah makhluk. Memang mereka dilarang menyebutkan kepada orang awam bahwa Alqur’an yang ada ddidunia adalah makhluk, namun mereka mengatakan demikian dikalangan ahli ilmu diantara mereka atau ketika sedang belajar. Kalau mereka mengatakan bahwa Alqur’an adalah Kalamullah, maka yang dimaksud adalah Alqur’an yang ada di Lauhil manhfudz yang tak berhuruf dan tak bersuara. Sekalipun tidak sama dengan pemahaman jahmiyah secara utuh, namun paling tidak mereka telah mengadopsi pemahaman jahmiyah dalam mengatakan bahwa Alqur’an yang ada didunia ini adalah makhluk.

    Ahlussunnah memahami bahwa alqur’an merupakan kalamullah yang bersuara dan berhuruf serta sesuai dengan kemuliaan dan keagungan Allah Taala yang tidak sama dengan makhluknya sebagaimana terdapat dalam Kitab Khalqu af’alil Ibad.

    Dari sinilah kemungkinan besar muncul kejengkelan Syafiiyah tersebut dan melaporkah Al Mizzi kepada Hakim lalu memenjarakan Beliau. yang jelas point-point dalam Kitab khalqu Af’alil Ibad memang bertentangan dengan Paham Asyairah

    Sungguh cerita Ini telah membongkar kekeliruan Asyairah dan kebencian mereka terhadap Imam-Imam Sunnah.

    Semoga bermanfaat.
    Sumber: http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/08/19/pembelaan-untuk-al-mizzi/#more-615

  17. Bismillahirahmanirahiim.
    Subhanallah, tulisannya berbobot tinggi dan menyuguhkan referensi yang luar biasa. Ada sedikit yang menggangguku, tentang takfiri.

    Berat saudaraku, mengkafirkan hamba Allah yang didadanya bergetar iman. Tentu saudara saudaraku yang luhur ilmunya lebih mengetahuinya.

    Jangan sampai, menilai satu titik kesalahan dengan mengkafirkannya. Mari kita mengingat pesan Rasulullah saw, bahwasannya orang yang telah meninggal itu telah bertemu dengan keadilan Nya, tidak usahlah kita ikut menghukuminya.

    Bukankah banyak karya karya Ibn Tamiyah dan Muridnya Ibn Qayim Al Jauziyah yang bisa kita nikmati dan belajar darinya?

    Bukan tumpukan pengetahuan itu yang membuat kita mendekat dengan Nya, tapi keridhaan dan kesungguhan kita dalam menjaga Nya. Jangan kita mengundang kemurkaannya dengan mengkafirkan Hamba Hamba Nya yang beriman.

    Mari berjalan berdampingan, menuju keabadian.

    Salam santunku,

    1. mungkin kalau ugkapan ini aku setuju,kaena masing2 punya argumen yg kuat…yang penting jangan sampe gampang lempar vonis BID`AH sukron katsiron.

  18. Orang yang suka kurafat, bid’ah dan mengkultus individukan sesuatu seperti kuburan…
    memang tidak suka dengan ajaran islam yang nabi ajarkan…
    yang sholat, ibadat, hidup, dan matinya hanya karena Allah.. benarkan dulu tauhid saudara sebelum memfitnah orang….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s