KETIKA hujan reda di ujung malam, maka bulan pun mulai nampak di balik bayangan mega yang kelabu. Jalan-jalan yang sunyi menjadi licin dan berlumpur. Sementara pintu-pintu sudah tertutup rapat. Namun dalam pada itu, dalam keheningan yang semakin mencengkam, seseorang duduk di atas sebuah amben bambu sambil mengusap hulu pedangnya. Sebuah mangkuk berisi air panas masih terletak di hadapannya. Sesekali orang itu meneguk minuman panas itu. Namun kemudian pelahan-lahan ia bangkit sambil bergumam, “Waktunya telah tiba”. Orang itu berdiri tegak sambil memandangi ruangan itu dari sudut sampai ke sudut. Setiap benda yang ada di ruang itu diperhatikan dengan seksama. Namun kemudian ia pun telah menarik nafas dalam-dalam. Sambil melangkah ke pintu, orang itu memanggil, “Wiradana….” Seorang anak muda yang mendengar panggilan itu pun bangkit dari pembaringannya. Udara yang dingin telah mendorongnya untuk berbaring sambil merenungi dirinya sendiri. Ketika Wiradana memasuki ruang tengah, dilihatnya ayahnya berdiri dengan pedang di lambung. “Ayah…” Ingin tahu kelanjutannya? Download aja DI SINI
Mei
12
2010