Ketika Talqin Mayit kembali diperdebatkan

Sudah banyak kitab dan buku yang menjelaskan tentang keabsahan dan bahkan kesunahan talqin mayit yang disertai dengan beberapa rujukan dan pengambilan dasar hukumnya. Tetapi masih saja dipandang sebelah mata oleh kelompok-kelompok yang segaja mempersempit ruang gerak ubudiyyah dalam agamanya sendiri (baca “agama Islam”), sengaja menyebarkan fitnah dikalangan warga Ahlussunnah waljamaah dengan tuduhan-tuduhan bid’ah dan syirik, sehingga membuat bingung orang-orang awam dan mengaburkan ajaran-ajaran Islam yang hakiki.

Padahal talqin mayit sudah ada sejak zaman Rasulullah saw dan di amalkan oleh para sahabat kemudian diteruskan oleh tabiin dan ulama-ulama salafus sholih. Imam Nawawi (Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syarof Annawawi) dalam kitabnya Al-adzkar Almuntakhobah min Kalami Sayyidil Abror saw, mengatakan, Bahwa talqinul mayyit ba’dad Dafni oleh mayoritas ulama’ Syafiiyyah dihukumi istihbab (sunnah). Diantara mereka adalah, Qodli Husain didalam Ta’liq-nya, Abu Sa’ad Almutawalli didalam kitab Titimmah-nya, Assyaikh Al-imam Azzahid Abul Fath Nashr bin Ibrahim bin Nashr Almuqoddasi, Imam Abul Qosim Arrafi’i dan lain-lain, diantaranya Imam Abu Amr bin Sholah dan ulama-ulama’ Syafi’iyyah dari Khurosyan.

Dalam kitab Mughnil Muhtaj disebutkan, bahwa talqinul mayyit ba’dad Dafni bagi mayit dewasa, menurut Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal hukumnya sunah. Orang yang membaca talqin duduk di arah kepala kuburan mayit, kemudian berkata, “Ya Abdallah bin Amatillah, Ingatlah apa yang engkau biasakan sebelum engkau keluar dari dunia, Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Nabi Muhammad utusan Allah, sesungguhnya surga itu nyata,neraka juga nyata, kebangkitan dari kubur itupun nyata, dan sesungguhnya hari kiamat pasti datang tanpa diragukan lagi, dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan orang-orang dari kubur, dan sesungguhnya engkau ridlo Allah sebagai tuhanmu, Islam adalah agamamu, Muhammad sebagai Nabimu, Qur’an adalah penuntunmu, Ka’bah sebagai kiblatmu dan orang-orang yang beriman adalah saudaramu”. (HR. Thabrani).

Menurut Imam Nawawi, walaupun hadits ini dlo’if, tetapi ditopang atau dikuatkan oleh beberapa hadits lain yang shohih dan firman Allah, “Dan berilah peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Adzdzariyat 55).

Selanjutnya dapat dilihat lagi didalam kitab Al-adzkar karangan Imam Nawawi, “Kami telah meriwayatkan hadits dalam Shohih Muslim dari Amr bin ‘Ash, Ia berkata “Jika aku telah dikuburkan maka berdirilah kalian semua disekeliling kuburku selama (dengan kadar) kambing disembelih, dikuliti dan dibagi-bagikan dagingnya. Agar aku terhibur dengan kalian dan aku ketahui apa yang harus aku jawabkan kepada malaikat yang menjadi utusan tuhanku”.

Dalam kitab Nailul Author disebutkan, “Diriwayatkan dari Rosyid bin Saad, Dlomrah bin Habib dan Hakim bin Umair, mereka berkata, Apabila tanah kuburan mayit telah diratakan lalu orang-orang telah pergi, mereka menganggap sunah apabila dikatakan kepada mayit disisi kuburnya; Ya fulan, katakan! Tidak ada tuhan selain Allah (tiga kali), Ya fulan, Tuhanku Allah, agamaku Islam dan Nabiku Muhammad saw. (HR. Sa’id).

Terlepas dari bahwa hadits-hadits tersebut perawinya shohih, hasan lighoirihi atau tidak, karena jelas ada perbedaan pandangan diantara para ulama, atau kalau memang hadits-hadist tersebut dlo’if, bukankah hadits dlo’if masih bisa digunakan untuk fadloilul a’mal. Dengan dasar inilah Imam Syafi’i menganggap talqin mayit sebagai perbuatan sunah yang memiliki dampak baik bagi yang masih hidup sebagai mauidzoh dan pengingat bagi mereka agar berbekal dan menyiapkan diri dalam menghadapi kematian, juga mempunyai maslahat bagi yang mati sebagai pengingat-ingat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang akan disodorkan oleh malaikat Munkar dan Nakir. Urusan si mayit nantinya bisa menjawab atau tidak semua itu tergantung dengan kehendak Allah swt. Waallohu a’lam.

About these ads

5 gagasan untuk “Ketika Talqin Mayit kembali diperdebatkan”

  1. kang anto tersayang….. anda itu hebat sekali kok… “nulis” sebanyak itu …. cuma satu kekurangan anda…. “KURANG PINTER”…BANYAK LAGI KURANGNYA…. (Hebat – gak pinter = ????)

  2. Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

    أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

    TENTANG HADITS LEMAH.

    Sebetulnya jalan keluar untuk tidak terlibat dengan masalah yang rumit itu gampang-gampang saja.

    Hindari keterlibatan kita dari kemelut tadi. Jangan pernah memperbesar kemelut orang lain.

    Menghadapi tanggapan orang tentang Hadits Dha’if – Mungkar – atau apapun bentuknya. kita kembalikan pada Ulama yang mengusung Hadits tadi.

    Hadits Dha’if itu tidak sama dengan hadits palsu atau mungkar. pengertian Dha’if itu adalah lemah , mungkin ada masalah dalam sanad – isnad, pada umumnya periwayatannya lemah karena penyampainya asing [ orangnya tidak dikenal ] lalu kenapa tidak dikenal ……..karena orang yang meriwayatkan terkemudian lupa …..tapi sewaktu dia menerima hadits yang si FULAN itu bisa dipercaya , atau bisa juga ada beberapa huruf yang tercecer dijalanan ketika mereka menyampaikannya = si A ke si B ke si C…dst…maklum bahasa ARAB itu adalah bahasa yang cukup rumit.

    Tapi tidak berarti hadits itu rusak selama kelemahannya dapat ditolelir oleh mereka yang punya niat mencari ridlo Allah swt dan menguasai ilmu Agama yang memadai ……[ artinya bukan berdasarkan hawa nafsu atau ingin dapat pujian sebagai orang yang hebat ].

    Pada kenyataan dilapangan , Ulama yang rajin men DHA’IF kan dan mem BID’AH kan kelompok lain yang dianggap tidak sefaham itu ada dua orang
    1/. BIN BAZ – 2/. Albani.

    Sekarang mari kita lihat bagaimana sepak terjang mereka yang ber TAQLID BUTA pada keduanya tadi ….. pada kebanyakan adalah yang banyak mengingkari sunah dan jadi TERORIS.

    Lalu kenapa jadi TERORIS…….????

    Karena merekapun bingung dengan jatidiri dan tidak punya keteguhan dalam ber AQIDAH dan penuh dengan keputus asaan , kebencian [ hidup malu - bermasyarakat dikucilkan - akhirnya jadi TERORIS ] .

    Kalau kita mau pembela Islam -jadilah pembela yang baik – jadilah penghafal Al-Qur’an dan Hadits, jangan bangga dengan kebodohan lalu saking malunya….kemudian….. bunuh diri dengan memakai bom …..inikan lucu……seperti badut…..terimakasih…

    Wassalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    لا تجتمع هذه الأمة على ضلا

    “Umat ini tidak akan bersepakat diatas kesalahan.”

    (HR. Asy-Syafi’I dalam Ar-Risalah)

    http://thesaltasin.wordpress.com/category/al-quran-teks-dan-terjemahan/

  3. BOLEHKAH MENGAMALKAN HADITS DHAIF?

    Memang benar bahwa para ulama berbeda pendapat tentang menggunakan hadits dhoif (lemah) dalam fadhilah amal. Ijtihad mereka para ulama bisa benar dan bisa salah. Ulama yg salah dalam ijtihad dapat 1 pahala, sedangkan ulama yang benar dapat 2 pahala. Adapun kita (termasuk saya) para muqallid (para pengikut) harus berusaha dengan sungguh-sungguh mencari pendapat yg paling kuat yaitu yang mencocoki Hadits karena sebagai bukti kecintaannya pada Rasulullah.

    Ibnul ‘Arobi al-Maliki berkata : Mereka (Ulama Mazhab Malikiyah) berkata : berapa wilayah telah dilalui beliau dan jenazah dihadiri secara langsung oleh beliau! Kami katakan: Sesungguhnya Rabb kita adalah Maha Mampu atasnya dan sesungguhnya Nabi kitalah yang layak dengannya. Akan tetapi janganlah kalian berpendapat melainkan hanya dengan yang kalian riwayatkan, janganlah kalian membuat-buat hadits yang berasal dari diri kalian sendiri, janganlah kalian menyampaikan melainkan yang tsabat (tetap) dan TINGGALKAN YANG LEMAH, karena ia merupakan jalan kerusakan kepada sesuatu yang tidak memiliki kerusakan.” (Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari oleh Ibnu Hajar (3/189) dan pula Nailul Authar karya Asy-Syaukani 4/54)

    Imam Muslim berkata dalam Muqaddimah Shahih Muslim: ”Ketahuilah bahwa yang wajib dilakukan oleh semua orang yang mengetahui cara membedakan antara riwayat yang shohih dengan yang lemah, serta membedakan antara perowi yang tsiqoh dengan yang dusta agar tidak meriwayatkan kecuali yang dia ketahui KESHOHIHAN sanadnya, dan hendaklah dia MENGHINDARI jangan sampai meriwayatkan dari orang-orang yang tertuduh berdusta, para penentang dan ahli bid’ah.” Lalu Imam Muslim menyebutkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lihat pada Kitab beliau karena pembahasan ini sangat penting. (Shohih Muslim 1/6 dst)

    Orang yang berpendapat bolehnya mengamalkan hadits dhoif beralasan karena ada KEMUNGKINAN bahwa hadits tersebut berasal dari Rasulullah.
    Hadits lemah/dhoif itu hanya berupa kemungkinan/prasangka saja, mungkin dari Rasulullah, mungkin juga bukan dari beliau. Sedangkan Allah dan Rasul-Nya melarang sesuatu yang belum benar-benar jelas kepastiannya/kebenarannya.

    Allah berfirman: ”Sesungguhnya persangkaan (Dhon) itu tidak berfaedah sedikitpun pada kebenaran.” (QS. An-Najm : 28)
    Dari Abu Hurairah dari Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam bersabda: ”Jauhilah berprasangka, karena prasangka adalah ucapan yang paling dusta.” (HR. Bukhari 6064 dan Muslim 2563)

    Imam Muslim berhujjah dengan hadits berikut ini: Rasulullah bersabda: ”Barangsiapa yang menceritakan dariku sebuah hadits yang dia SANGKA bahwa hadits itu dusta, maka dia adalah salah satu dari pendusta.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Kitab Shohih beliau).

    Ibnu Hibban berkata mengomentari hadits riwayat Muslim di atas dalam Kitab Adh-Dhuafa’ 1/7-8 : ”Hadits ini menunjukkan bahwa seorang ahli hadits kalau meriwayatkan sebuah hadits yang tidak shohih dari Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam padahal dia mengetahuinya maka dia termasuk salah satu pendusta, padahal dhohirnya hadits tersebut menjelaskan perkara yang lebih besar lagi, di mana Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam bersabda: ”Barangsiapa menceritakan dariku sebuah hadits yang dia SANGKA bahwa itu dusta…” dan Rasulullah tidak bersabda : ”Yang dia YAKINI bahwa itu dusta” maka semua orang yang masih ragu-ragu pada apa yang dia riwayatkan apakah hadits itu shohih ataukah tidak, maka dia termasuk dalam ancaman hadits tersebut.”

    Ucapan Ibnu Hibban ini dinukil oleh Imam Ibnu Abdil Hadi dalam Ash-Shorim Al-Munki hal. 165-166 dan beliau menyepakatinya.

    Dari Hafsh bin Ashim ra berkata: Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam bersabda: ”Cukuplah seseorang itu dikatakan sebagai pendusta, kalau dia menceritakan semua yang dia dengar.” (HR. Muslim 5 dan Abu Dawud 4992)

    Ibnu Hibban berkata lagi dalam Kitab Adh-Dhuafa’ 1/9: ”Hadits ini merupakan ancaman bagi seseorang yang menceritakan semua yang dia dengar sampai dia mengetahui dengan pasti keshohihannya.”

    Abdullah Ibnu Mubarak berkata: ”Sanad adalah bagian dari agama, seandainya tidak ada sanad niscaya semua orang akan bicara semaunya sendiri.” (Muqaddimah Shahih Muslim)

    Imam Nawawi mengomentari perkataan Abdullah Ibnu Mubarak dalam Kitab beliau Syarah Shahih Muslim bahwa bila sanad hadits itu dapat diterima, BILA TIDAK SHAHIH MAKA HARUS DITINGGALKAN. Dinyatakan hubungan hadits dengan sanadnya seperti antara hubungan hewan dengan kakinya (Shahih Muslim bi Syarah Imam An-Nawawi I/88 cet. Darul Fikr).

    Orang yang mengamalkan hadits dhoif, ketika ditanya apa dalilnya anda mengamalkan amalan ini, maka ia bisa saja menjawab dengan ucapan: Rasulullah bersabda ”demikian…, demikian..”. Padahal orang yang mengucapkan tersebut mengetahui bahwa hadits ini lemah dan kemungkinan besar hadits ini tidak berasal dari sabda Rasulullah, tetapi mengapa ia mengatakan dengan lantang ”Rasulullah bersabda”.

    Nabi bersabda: ”Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Barangsiapa yang takut terkena ancaman hadits ini hendaknya jangan menggunakan hadits yang tidak shohih (baik yang dhoif/lemah, maudhu’/palsu, batil, munkar, tidak ada asal-usul sanadnya) kecuali jika TIDAK TAKUT DENGAN ANCAMAN RASULULLAH.

    BAHAYANYA MENGAMALKAN HADITS DHOIF/LEMAH

    Saya akan membawakan beberapa contoh hadits dhoif dan bahayanya mengamalkannya.
    A. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: ”Barangsiapa yang tidak puasa satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada keringanan yang diringankan oleh Allah, maka tidak akan bisa diganti oleh puasa satu tahun penuh seandainya pun dia melakukannya.” (HR. Ibnu Khuzaimah 1987, Tirmidzi 723, Abu Dawud 2397, diriwayatkan Bukhari secara mu’allaq dan beliau mengisyaratkan akan kelemahannya)
    Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata dalam Kitab Syarah Shohih Bukhari Fathul Bari 4/161: ”Hadits ini diperselisihkan pada Habib bin Abu Tsabit, ternyata ada 3 cacat: (1) Mudhthorib (bergoncang/tidak tetap/berubah-ubah-pen), (2) Abu Muthowwis majhul (tidak dikenal-pen), dan (3) Diapun diragukan akan mendengarnya bapaknya dari Abu Hurairah.”

    Mengamalkan hadits ini di satu sisi memang ada MANFAATNYA yaitu orang yang sudah tahu hadits ini ia akan rajin mengamalkan puasa Ramadhan dan takut sekali meninggalkannya walaupun cuma 1 hari.
    Akan tetapi di sisi lain kita dapat melihat BAHAYANYA yang terlalu besar yaitu orang yang sudah terlanjur pernah/sering meninggalkan puasa, setelah membaca hadits ini maka dia tidak akan mengqadha’/mengganti puasanya karena tahu akan sia-sia saja jika dia mengqadha’. Padahal kita semua tahu bahwa puasa Ramadhan itu merupakan kewajiban termasuk rukun Islam, dan meninggalkannya akan mendapat dosa yang besar (termasuk meninggalkan qodho’nya).
    B. Hadits Tentang Surat Yasin:
    Hadits 1: ”Siapa yang membaca surat Yasin di pagi hari maka akan dimudahkan (untuknya) urusan hari itu sampai sore. Dan siapa yang membacanya di awal malam (sore hari) maka akan dimudahkan urusannya malam itu sampai pagi”. (Hadits ini Lemah) Hadits ini diriwayatkan Ad-Darimi 2:457 dari jalur Amr bin Zararah. Dalam sanad hadits ini terdapat Syahr bin Hausyab. Kata Ibnu Hajar Al-Asqolani: Ia banyak memursalkan hadits dan banyak keliru. (Periksa : Taqrib I:355, Mizanul I’tidal Adz-Dzahabi II:283).
    Hadits 2: “Siapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari keridhaan Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya”. (Hadits ini Lemah)
    Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya Mu’jamul Ausath dan As-Shaghir dari Abu Hurairah, tetapi dalam sanadnya ada rawi Aghlab bin Tamim. Kata Imam Bukhari, ia munkarul hadits. Kata Ibnu Ma’in, ia tidak ada apa-apanya (tidak kuat). (Periksa : Mizanul I’tidal Adz-Dzahabi I:273-274 dan Lisanul Mizan Ibnu Hajar I : 464-465).
    Hadits 3: “Siapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam Jum’at maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya”. (Ibnul Jauzi, Al-Maudhu’at, 1/247, hadits ini palsu)
    Ibnul Jauzi mengatakan, hadits ini dari semua jalannya adalah batil, tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata : Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini adalah tukang memalsukan hadits. (Periksa : Al-Maudhu’at Ibnul Jauzi, I/246-247, Mizanul I’tidal Adz-Dzahabi III/549, Lisanul Mizan Ibnu Hajar V/168, Al-Fawaidul Majmua’ah hal. 268 No. 944).
    Dan masih banyak riwayat-riwayat lain tentang keutamaan surat Yasin tetapi tidak ada yang shohih.
    Abdullah bin Mubarak berkata : Aku berat sangka bahwa orang-orang zindiq (yang pura-pura Islam) itulah yang telah membuat riwayat-riwayat itu (hadits-hadits tentang fadhilah surat-surat tertentu). Dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata : Semua hadits yang mengatakan, barangsiapa membaca surat ini akan diberikan ganjaran begini dan begitu, semua hadits tentang itu adalah palsu. Sesungguhnya orang-orang yang memalsukan hadits-hadits itu telah mengakuinya sendiri. Mereka berkata, tujuan kami membuat hadits-hadits palsu adalah agar manusia sibuk dengan (membaca surat-surat tertentu dari Al-Qur’an) dan menjauhkan mereka dari isi Al-Qur’an yang lain, juga kitab-kitab selain Al-Qur’an. (Periksa : Al-Manarul Munffish Shahih Wadh-Dha’if, hal. 113-115).
    BAHAYANYA:
    Seseorang yang mengamalkan hadits dhaif ini dia akan lebih disibukkan (karena memperbanyak untuk mengejar keutamaannya) untuk membaca surat Yasin, sehingga jarang/sedikit membaca surat-surat yang lain. Banyak juga masyarakat yang sering mengamalkan membaca Surat Yasin pada hari Jum’at, sehingga dia meninggalkan membaca Surat Al-Kahfi pada hari Jum’at. Padahal merutinkan membaca Surat Al-Kahfi pada hari Jum’at jelas khabar shohih dari Rasulullah shollallahu’alaihi wasallam.
    Nabi bersabda: “Barangsiapa membaca Surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, akan keluar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, meneranginya pada hari kiamat dan diampuni antara dua jum’at.” (HR. Hakim 2/368 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Arnauth dalam Tahqiq Zaadul Ma’aad Ibnul Qayyim I/366)
    Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ’anhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda : “Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at, maka Alloh terangi ia dengan cahaya diantara dua jum’at.” [HR al-Hakim dan Baihaqi, shohih)

    C. Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah bersabda: ”Akan tersebar banyak hadits dariku, maka apabila datang kepada kalian sebuah hadits dariku, bacalah Kitab Allah dan pelajarilah, kalau hadits itu sesuai dengan Al-Qur’an maka berarti itu saya katakan, adapun yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an, berarti tidak saya katakan.” (HR. Thabrani dalam Al-Kabir 3/194, hadits lemah)
    Hadits ini memiliki beberapa cacat dari perowinya:
    Pertama: Wadhin, dia orang yang jelek hafalannya
    Kedua: Qotadah bin Fudhoil, Ibnu Hajar berkata dalam Taqrib: “Dia maqbul kalau untuk mutabaah.”
    Ketiga: Abu Hadhir, dikatakan oleh Ibnu Hajar dan Adz-Dzahabi: “Majhul (tidak dikenal)
    Keempat: Zubair bin Muhammad ar-Rohawi, biografinya tidak ditemukan.

    BAHAYANYA mengamalkan hadits ini SANGAT BESAR SEKALI yaitu akan terjerumus ke dalam paham Qur’aniyyin/Inkarus Sunnah. Sehingga orang yang mengamalkan hadits ini, konsekuensinya ia akan
    1. Mengamalkan memakan binatang bertaring dan berkuku tajam (anjing, harimau, serigala, ular, tikus, burung gagak, elang, dsb), cicak, landak, keledai jinak, dsb, dengan alasan bahwa Al-Qur’an (QS. 2: 173) HANYA mengharamkan 4 hal yaitu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih dengan tidak menyebut asma Allah. Padahal As-Sunnah (HR. Bukhari, Muslim, dll) menambah jenis-jenis makanan yang diharamkan selain yang terdapat dalam Al-Qur’an.
    2. Tidak mau mengamalkan mengqashar sholat (yang 4 jadi 2 rekaat) ketika dalam perjalanan dan menyalahkan orang yang mengamalkannya dengan alasan bahwa di dalam Al-Quran (QS. 4: 101) syarat qashar dalam keadaan takut. Padahal dalam As-Sunnah (HR. Muslim 1/478 no 686) telah dijelaskan bahwa walau dalam keadaan aman tetap disunnahkan mengqashar sholat.
    3. Jika laki-laki akan mengamalkan memakai perhiasan emas dengan alasan bahwa Al-Qur’an (QS. 7:32) menghalalkan memakai emas. Padahal dalam As-Sunnah (HR. Hakim), Rasulullah mengharamkan laki-laki memakai emas.
    4. Menolak hadits syafaat tentang keluarnya orang-orang mukmin dari neraka dengan berdalil dari satu sisi ayat Al-Qur’an (QS. 32: 20) tentang tidak adanya syafaat / orang kafir yang masuk neraka tidak akan bisa keluar. Dan masih banyak lagi paham-paham inkarus sunnah yang menolak hadits Nabi jika dhohirnya bertentangan dengan Al-Qur’an atau menolak hadits Nabi yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an.

    Agar tidak menjadi inkarus sunnah, umat Islam harus menerima semua hadits shohih yang datang dari Nabi walaupun dhohir/kelihatannya seperti bertentangan, padahal sebenarnya tidak bertentangan karena hadits Nabi itu memperinci Al-Qur’an yang bersifat umum, menambah hukum Al-Qur’an, atau menjelaskan/menafsirkan Al-Qur’an. Sesuai kaidah yang baku berikut ini.
    “Apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

    Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sungguh, akan aku dapati salah seorang dari kalian bertelekan di atas sofanya/singgasananya, yang apabila sampai kepadanya hal-hal yang aku perintahkan atau aku larang dia berkata, ‘Saya tidak tahu. Apa yang ada dalam Al-Qur`an itulah yang akan kami ikuti” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi –dan ia menshahihkannya-, Ibnu Majah, at-Thahawi dan lainnya dengan sanad yang shahih).

    Dari Jabir bin Abdillah ra. berkata, Rasulullah bersabda: “Mungkin saja ada di antara kalian yang mendengar salah satu dari perkataan saya dalam keadaan berbaring kemudian berkata, ‘jauhkan kami dari semua ini, kami hanya mengikuti apa yang berasal dari al-Qur’an.” [Al-Khatib, al-Kifayah, 42, dari dua jalur. Jami’ al-Bayan, Ibnu Abdil Bar, jami’ bayan al-ilmi wafadhlihi, 2/189]

    Riwayat yang shahih dari Ibnu Mas’ud ra. yaitu bahwasannya ada seorang wanita yang datang kepadanya kemudian berkata kepadanya : “Kamukah yang berkata bahwa Allah melaknat namishaat (wanita yang mencabut rambut alis) dan mutanaamishaat (wanita yang dicabut rambut alisnya) dan waasyimaat (wanita yang membuat tato) ?”. Ibnu Mas’ud menjawab,”Ya, benar”. Perempuan tadi berkata,”Aku telah membaca Kitabullah dari awal sampai akhir tetapi aku tidak menemukan apa yang kamu katakan”. Maka Ibnu Mas’ud menjawab, ”Jika kamu betul-betul membacanya, niscaya engkau akan menemukannya. Tidakkah engkau membaca: ”Apa-apa yang disampaikan Rasul kepadamu maka ambillah dan apa-apa yang dilarangnya, tinggalkanlah…” (QS. Al-Hasyr : 7). Aku telah mendengar Rasulullah saw.: ”Allah melaknat An-Naamishaat…..” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim].

    Ibnu Qayyim berkata: “Imam Ahmad telah menulis sebuah kitab tentang wajibnya ketaatan kepada Rasulullah, dia membantah pandangan orang yang beragumen dengan ZHAHIR al-Qur’an untuk menolak sunnah Nabi dan tidak mengakui kekuatan hukum hadits”. (I’laam Al Muwaqi’in ‘An Rabbi Al Alamin 2/290-291).

    Ibnu Abil Izzi Al-Hanafi (murid Ibnu Katsir) berkata: “Walaupun dia mengaku atau menganggap mengambil dari Kitabullah tetapi tidak menerima penafsiran Kitabullah dari hadits-hadits Rasul, tidak melihat hadits-hadits, tidak pula melihat perkataan para shahabat dan pengikut mereka yang mengikuti dengan baik (tabi’in)…” (Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah halaman 212 cetakan ke-4).

    D. Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda: “Lindungilah diri kalian dari orang lain dengan buruk sangka.” (HR. Thabrani dalam Al-Ausath 1/36/1/592, Ibnu Adi 6/2398, hadits lemah sekali)
    Sisi cacatnya adalah ada perowi bernama Baqiyyah bin Walid, sedangkan dia adalah mudallis. Adz-Dzahabi berkata: “Baqiyyah mempunyai beberapa hadits gharib dan munkar.” (Ad-Dhoifah 156)
    BAHAYANYA: Orang yang mengamalkan hadits ini maka dia akan memperbolehkan untuk su’u dzon (buruk sangka) kepada orang lain sehingga pergaulan dengan orang lain/masyarakat menjadi tidak rukun/damai. Padahal kaidah yang sudah baku bahwa kita dilarang untuk berprasangka buruk terhadap orang lain.
    Dari Abu Hurairah dari Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam bersabda: ”Jauhilah berprasangka, karena prasangka adalah ucapan yang paling dusta.” (HR. Bukhari 6064 dan Muslim 2563)

    E. Hadits yang menceritakan tentang keengganan Tsa’labah untuk membayar zakat.
    Sebelumnya diceritakan dalam isi hadits tersebut bahwa Sahabat Tsa’labah bin Hathib minta didoakan oleh Rasulullah agar rezeki hartanya melimpah dan Tsa’labah berjanji jika telah menjadi kaya nanti ia akan menafkahkan hartanya kepada yang berhak. Setelah benar-benar menjadi kaya, Rasulullah mengutus dua orang untuk mengambil zakat kepada Tsa’labah. Tetapi ternyata Tsa’labah menolak membayar zakat. Lalu keduanya pulang dan menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala beliau melihat keduanya (pulang tidak membawa hasil), sebelum berbicara, beliau bersabda : “Celaka engkau, wahai Tsa’labah ! Lalu turun ayat :
    “Artinya : Dan diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah : ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)”(At-Taubah : 75-76) dst. (Diriwayatkan Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir 8/260/7873, Ibnu Jarir At-Thobari dalam Tafsirnya 14/16987 dan Ibnu Abi Hatim sebagaimana yang dikatakan Ibnu Katsir dalam tafsir beliau 2/374, hadits lemah sekali)
    Para Ulama yang melemahkan hadits-hadits ini di antaranya ialah :
    • Ibnu Hazm, ia berkata : “Riwayat ini Bathil”. (Al-Muhalla 11:207-208).
    • Al-Iraqy berkata : “Riwayat ini Dha’if”. (Lihat Takhrij Ahadist Ihya Ulumudin 3:272)
    • Ibnu Hajar Al-Asqalany berkata : “Riwayat tersebut Dha’if dan tidak boleh dijadikan hujjah”. (Lihat : Fathul Bari 3 :266).
    • Ibnu Hamzah menukil perkataan Baihaqi : “Dha’if”. (Lihat Al-Bayan wat Ta’rif 3:66-67).
    • Al-Manawi berkata : “Dha’if” (Lihat : Faidhul Qadir 4:527).
    • Al-Qurtubi dalam tafsir beliau 8/210
    • Adz-Dzahabi dalam Tajrid Asma’ Shohabah no. 623.
    RIWAYAT YANG BENAR TENTANG TSA’LABAH
    Tsa’labah bin Hathib adalah seorang shahabat yang ikut dalam perang Badar sebagaimana disebutkan oleh :
    • Ibnu Hibban dalam kitab Ats-Tsiqaat 3:36.
    • Ibnu Abdil Barr dalam kitab Ad-Durar. halaman 122.
    • Ibnu Hazm dalam kitab Al-Muhalla 11:208
    • Ibnu Hajar Al-Asqalany dalam kitab Al-Ishaabah fil Tamyiizis Shahaabah I:198
    Dalam buku At-Tasfiyah wat Tarbiyah wa Atsarihima Fisti’nafil Hayat Al-Islamiyyah (hal. 28-29) oleh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsary disebutkan pembelaan terhadap shahabat Tsa’labah bin Hathib, ia berkata : “Tsa’labah bin Hathib adalah shahabat yang ikut (hadir) dalam perang Badr”.
    Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang ahli Badar : Tidak akan masuk neraka seseorang yang ikut serta dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiyah”.(Hadits Riwayat Ahmad 3:396).

    BAHAYANYA:
    1. Kita berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    2. Kita menuduh shahabat ahli Surga dengan tuduhan yang jelek.
    3. Kita berdusta kepada orang yang kita sampaikan cerita tersebut kepadanya.
    Memang di satu sisi, manfaat riwayat ini adalah menyuruh untuk berzakat dan mengancam orang yang tidak mau membayar zakat. Hanya saja mengapa menggunakan hadits lemah ini sebagai hujjah, padahal masih banyak sekali ayat Al-Qur’an dan Hadits lain yang shohih yang berisi perintah membayar zakat/bersedekah.
    Menggunakan riwayat ini dalam ceramah-ceramah tentang anjuran untuk beramal sedekah/membayar zakat konsekuensinya ia telah mencela Sahabat Rasulullah yaitu Tsa’labah. Padahal Rasulullah melarang keras untuk mencela Sahabat beliau.
    Nabi bersabda: Barangsiapa mencela shahabatku, maka ia mendapat laknat dari Allah, malaikat dan seluruh manusia”.(Hadits Riwayat Thabrani).
    Nabi bersabda: “Janganlah kalian mencaci para sahabatku. Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, seandainya seseorang di antara kalian menginfakkan satu gunung uhud emas, hal itu tidak sebanding dengan satu mud atau bahkan setengah mud mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Ibnu Abbas berkata : “Janganlah kalian mencaci maki atau menghina para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya kedudukan salah seorang dari mereka bersama Rasulullah sesaat itu lebih baik dari amal seorang dari kalian selama 40 (empat puluh tahun)”. (Hadits Riwayat Ibnu Batthah dengan sanad yang shahih. Lihat Syarah Aqidah Thahawiyah hal. 469).
    Imam Ahmad berkata: “Termasuk hujjah yang terang menyebutkan semua kebaikan-kebaikan semua sahabat-sahabat Rasulullah dan menahan diri dari menyebut-nyebut kekurangan-kekurangan mereka dan mengungkit-ngungkit pertikaian yang terjadi di antara mereka. Maka siapapun yang memaki sahabat Rasulullah atau salah seorang di antara mereka atau merendahkan, melecehkan, membeberkan aib mereka atau menghujat salah seorang dari mereka adalah pembuat bid’ah (mubtadi’), tergolong Rafidhah (Syi’ah), jahat dan menentang. Allah tidak akan menerimanya sama sekali. Bahkan mencintai mereka termasuk sunnah, mendoakan mereka termasuk ibadah. [As-Sunnah: 78]
    Imam Adz-Dzahabi berkata: “Sudah seyogyanya ditekadkan menahan diri dari banyak memperbincangkan pertikaian dan perperangan yang terjadi di antara sahabat dan riwayat-riwayat itu akan terus kita lalui dalam ensiklopedia, kitab dan artikel-artikel (ajza’) yang kebanyakan munqati’ (terputus sanadnya) dan dha’if (lemah), dan sebagian lagi adalah kebohongan belaka. [Siyar A'lam An-Nubala' X/92]

    Nah, itulah beberapa di antara bahayanya mengamalkan hadits dhoif.

    PENGHUNI KUBUR TIDAK MAMPU MENDENGAR SUARA ORANG YG HIDUP

    “Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan ORANG YANG DI DALAM KUBUR DAPAT MENDENGAR.” (Q.S. Fathir:22)

    ”Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan ORANG-ORANG YANG MATI MENDENGAR dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang.” (QS. An-Naml 80)

    Nabi bersabda: ”Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang selalu bertebaran di muka bumi ini, mereka menyampaikan kepadaku salam dari umatku.” (Hadits Shahih Riwayat Ahmad)

    Akan tetapi terkadang Allah memperdengarkan kepada mayit suara dari salah satu Rasul-Nya untuk suatu hikmah tertentu, seperti Allah memperdengarkan suara Rasulullah kepada orang-orang kafir yang terbunuh di perang Badar, sebagai penghinaan dan penistaan untuk mereka, dan kemuliaan untuk Rasulullah. Sampai-sampai Nabi mengatakan kepada para sahabatnya ketika sebagian mereka mengingkari hal tersebut,
    “Tidaklah kalian lebih mendengar apa yang aku katakan daripada mereka, akan tetapi mereka tidak mampu menjawab” (H.R. Imam Ahmad -dan ini lafalnya- (I/27; III/104, 182, 263, dan 287), Bukhari (II/101), dan Nasa’i (IV/110).

    Lalu bagaimana dengan hadits berikut ini?
    Nabi bersabda:“Demi Allah sesungguhnya orang yang telah meninggal dari kalian (di dalam kuburnya) mendengar bunyi langkah terompah/sandal kalian.” (HR. Ibnu Majah, Abu Dawud, An-Nasai, dan Ahmad)

    Hadits ini jelas-jelas mengatakan terompah/sandal bukan selain itu, lalu bagaimana bisa dimutlakkan/digeneralisasi/ditambah ke semua hal yg berkaitan dengan orang yg masih hidup?

    Abdullah bin Umar ra. adalah sahabat Nabi yang paling keras dalam menentang segala macam bid’ah dan beliau sangat senang dalam mengikuti As-Sunnah. Dari Nafi’, pada suatu saat mendengar seseorang bersin dan berkata: ”Alhamdulillah was sholatu was salamu’ala Rasulillah.” Berkatalah Abdullah bin Umar ra.: ”Bukan demikian Rasulullah shollallahu ’alaihi wasalam mengajari kita, tetapi beliau bersabda: ’Jika salah satu di antara kamu bersin, pujilah Allah (dengan mengucapkan): Alhamdulillah’, tetapi beliau tidak mengatakan: ’Lalu bacalah sholawat kepada Rasulullah!” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Sunan-nya no. 2738 dengan sanad yang hasan dan Hakim 4/265-266)

    Sa’id bin Musayyab (tabi’in) melihat seseorang mengerjakan LEBIH DARI 2 RAKAAT shalat setelah terbit fajar. Lalu beliau melarangnya. Maka orang itu berkata, “Wahai Sa’id, apakah Allah akan menyiksa saya karena shalat?”, lalu Sa’id menjawab :”Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyalahi sunnah” (Shahih, diriwayatkan oleh Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra II/466, Khatib Al Baghdadi dalam Al Faqih wal mutafaqqih I/147, Ad Darimi I/116)

    Sufyan bin Uyainah (tabiut tabi’in) mengatakan: Saya mendengar Malik bin Anas (imam mazab/tabiut tabi’in/guru imam Syafi’i) didatangi seseorang yang bertanya: Wahai Abu Abdillah dari mana saya harus melaksanakan ihram (untuk haji/umrah)? Imam Malik mengatakan: Dari Dzul Hulaifah, dari tempat Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam berihram. Orang itu berkata: Saya ingin berihram dari masjid dekat kuburan beliau. Imam Malik mengatakan: Jangan, saya khawatir kamu tertimpa fitnah. Orang itu berkata pula: Fitnah apa? Bukankah SAYA HANYA SEKEDAR MENAMBAH BEBERAPA MIL SAJA? Imam Malik menegaskan: Fitnah apalagi yang lebih hebat dari sikapmu yang menganggap engkau telah mengungguli Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam mendapatkan keutamaan di mana beliau telah menetapkan demikian sementara kamu MENAMBAHNYA? Dan saya mendengar firman Allah Ta’ala: ”Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (Diriwayatkan oleh Baihaqi dan Abu Nu’aim)

    Sahabat Ibnu Mas’ud berkata: ”SEDERHANA dalam Sunnah lebih baik daripada berlebih-lebihan dalam bid’ah.” (Ad-Darimi no. 223, Hakim 1/103, Al-Lalikai, sanad jayyid)

    Adapun mayat yang mendengar suara langkah orang yang mengantarnya (ketika berjalan meningalkan kuburnya) setelah dia dikubur, maka itu adalah pendengaran khusus yang ditetapkan oleh nash (dalil As-Sunnah hanya sebatas sandal/terompah), dan tidak lebih dari itu (TIDAK LEBIH dari sekedar mendengar suara terompah mereka), karena hal itu diperkecualikan dari dalil-dalil yang umum yang menunjukkan bahwa orang yang meninggal tidak bisa mendengar (suara orang yang masih hidup), sebagaimana yang telah lalu.

    APAKAH MENTALQINKAN ORANG YG SUDAH MATI DISYARIATKAN

    Menurut hadits yang jelas keshahihannya bahwa talqin adalah menuntun kalimat Laa ilaaha illallah bagi orang YANG AKAN MATI bukan orang yang sudah mati.

    Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, mereka berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam: ”Ajarkanlah orang yang akan mati dari antara kamu Laa ilaaha illallah.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

    Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: ”…Karena barangsiapa yang akhir perkataannya Laa ilaaha illallah, niscaya dia akan masuk surga” (HR. Ibnu Hibban)

    Orang-orang yang membolehkan talqin mayit yang telah dikubur di antaranya berdalil dengan riwayat-riwayat berikut ini.

    Hadits 1: Dari Utsman, ia berkata: Adalah Rasulallah shallallahu ’alaihi wasallam apabila selesai dari mengubur mayit, ia berdiri di atas (pinggir kubur) itu dan bersabda: ”Mintakanlah ampun bagi saudara kamu dan mintakan keteguhan baginya karena ia sedang ditanya.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Hakim)
    Hadits ini sama sekali tidak menunjukkan talqin kalimat Laa ilaaha illallah, tetapi menyuruh untuk mendoakan si mayit agar mendapat ampunan dan keteguhan (dapat menjawab pertanyaan kubur) dari Allah.

    Riwayat 2: Dari Sa’id bin Abdulloh Al-Audi, ia berkata: Saya menyaksikan Abu Umamah saat menjelang meninggal dunia, dan beliau berkata: Apabila saya meninggal dunia maka lakukanlan bagiku sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah untuk kami lakukan pada orang yang meninggal. Beliau bersabda: ”Apabila salah seorang dari kalian meninggal dunia lalu kalian sudah meratakan kuburnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian berdiri pada sisi kepala kubur, lalu hendaklah dia berkata: ’Wahai Fulan anaknya Fulanah, karena dia akan mendengarnya meskipun tidak bisa menjawab’. Kemudia katakan: ’Wahai FULAN BIN FULANAH’, maka dia akan duduk sempurna. Kemudian katakan: ’Wahai Fulan anaknya Fulanah’, maka dia akan berkata : ’Berilah aku petunjuk, semoga Allah merahmati kalian’. Lalu hendaklah dia katakan: ’Ingatlah apa yang engkau bawa keluar dari dunia ini yaitu syahadat bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah seorang hamba dan utusan-Nya, dan engkau ridho Allah sebagai Robb-mu, Islam sebagai agamamu, Muhammad sebagai Nabimu, Al-Qur’an sebagai imammu. Karena salah seorang dari malaikat Munkar dan Nakir akan mengambil tangan yang lainnya seraya berkata: ’Pergilah, tidak perlu duduk pada orang yang sudah ditalqinkan hujjahnya’. Dengan ini semua maka Allah akan menjadi hujjahnya dalam menghadapi keduanya’. Lalu ada salah seorang bertanya: ’Wahai Rasulullah, bagaimana kalau tidak diketahui nama ibunya?’ Maka Rasulullah bersabda: ’Nasabkanlah kepada Hawa, katakan FULAN BIN HAWA’.” (Diriwayatkan oleh Thabrani dalam Ad-Du’a dan Mu’jam al-Kabir. Hadits lemah)
    Hadits ini dilemahkan oleh para ulama:
    Berkata Al-Haitsami dalam Al-Majma’ 3/45: ”Dalam sanadnya banyak perawi yang tidak saya kenal.”
    Berkata Ibnu Sholah: ”Sanadnya tidak bisa dijadikan hujjah.”
    Imam Nawawi juga melemahkannya, sebagaimana dalam Majmu’ Syarah Muhadzab 5/304 dan Al-Fatawa hal. 54.
    Ibnu Taimiyyah berkata dalam Majmu’ Fatawa 24/296: ”Hadits ini tidak dihukumi shohih.”
    Ibnul Qayyim berkata dalam Zadul Ma’ad 1/523: ”Tidak shohih secara marfu.” Beliau juga berkata dalam Tahdzibus Sunan: ”Hadits ini disepakati akan kelemahannya.”
    Al-Iroqi juga melemahkannya dalam Takhrij Ihya’ 4/420.
    Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata dalam Nata’ijul Afkar dan Fathul Bari Kitab Syarah Shahih Bukhari 10/563: ”Lemah sekali.”
    Dilemahkan oleh Zarkasyi dalam Al-La’ali Al-Manstsuroh hal. 59, As-Suyuthi dalam Ad-Duror Al-Manstsuroh hal. 25 dan Imam Ash-Shan’ani dalam Subulus Salam 2/114.

    KRITIK MATAN HADITS
    Syaikh Abu Ishaq Al-Huwani: ”Matan hadits ini juga munkar karena bertentangan dengan hadits yang shohih bahwa seseorang dipanggil dengan nama bapaknya, sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda: ’Sesungguhnya seorang pengkhianat akan diangkat benderanya pada hari kiamat dan dikatakan: Inilah pengkhianatan FULAN BIN FULAN’.” (HR. Bukhari dan Muslim). Imam Bukhari berkata: ”Bab manusia dipanggil dengan nama bapak-bapak mereka.” (Majalah At-Tauhid Mesir edisi 8 tahun 29 rubrik hadits)

    Saya (penulis) berkata: Sungguh aneh sekali jika ada seorang muslim (selain para Nabi/Rasul) bisa tidak diuji (ditanyai) dalam kubur hanya karena ia ditalqinkan pada saat mati oleh orang yang masih hidup. Orang yang bisa mengucapkan Laa ilaaha illallah saat akhir hidupnya saja (yang jelas-jelas dijamin MASUK SURGA) belum tentu dia terlepas dari pertanyaan kubur, lalu bagaimana lagi orang yang ditalqinkan saat mati yang BELUM ADA JAMINAN MASUK SURGA ia bisa tidak mendapat pertanyaan maupun azab kubur. Padahal orang yang dijamin masuk surga itu lebih tinggi kedudukannya dari orang yang belum ada jaminan masuk surga. Hadits lemah ini juga bertentangan dengan kaidah baku yaitu manusia pasti tidak akan terlepas dari pertanyaan kubur berdasarkan hadits shohih.
    Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya umat ini akan diuji dalam kuburnya.” (HR. Muslim dalam Al-Jannatu wa Shifatu Na’imiha 4/2200 dan Ahmad dalam Musnad 3/3). Mungkin dikecualikan para Nabi dan Rasul, sedangkan selain mereka tidak akan bisa terlepas dari pertanyan maupun azab kubur. Wallahu a’lam.

    BAHAYANYA MENGAMALKAN HADITS TALQIN MAYIT YANG LEMAH
    Di kalangan orang yang mengamalkan hadits talqin mayit ini mungkin ada sebagian/segelintir orang (mungkin tidak semua tetapi bisa juga akan menjadi kebanyakan orang) yang merasa sudah aman dari azab kubur karena dia telah berwasiat kepada keluarganya/karib kerabatnya untuk mentalqinkannya ketika dia telah mati nanti. Sehingga pada implikasinya dalam kehidupan di dunia, dia bisa menjadi lengah/lalai dalam beribadah kepada Allah atau seminim-minimnya menjadi jarang/tidak rajin/berkurang semangatnya/tidak bersungguh-sungguh untuk beribadah kepada Allah. Mengapa? Alasannya dia sudah memiliki jaminan bahwa ia akan selamat dari pertanyaan/azab kubur karena telah berwasiat kepada keluarganya/karib kerabatnya agar mentalqinkan mayatnya setelah dikubur. Wallahu a’lam.

    1. Copy paste aja kok sok kang, belajar dulu yang rajin tentang agama, dalami dulu sedalam-dalamnya, jangan suka berandai-andai. karena orang-orang seperti sampean inilah, sehingga timbul orang-orang yang anti hadits. Hadits menjadi dipandang sebelah mata. dlo’if ….. dlo’if ……dlo’if bisa saja maudlu’ mungkin malah hadits palsu, hiya kalau ….. kalau …..kan …… KANG HADITS SE-MUTAWATIR APAPUN, SE-SHOHIH APAPUN KALAU SAMPEAN YANG MERIWAYATKAN JUGA AKAN BERKURANG KWALITAS ATAU NILAINYA.

      1. Kok begitu tanggapannya … ? …. mestinya anda bisa menyajikan lebih dari yang disampaikan saudara Anto, sehingga penikmat blog anda bisa membandingkan … mana yang bisa diterima akal ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s