NurKholis Majid dan Pluralisme

Salah satu tokoh inti sekaligus penggagas pluralisme adalah John Hick, sebagai penyempurna atau pengembangan dari ingklusifisme. Bahwa agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju kepada keparipurnaan (ghoyah) atau tujuan akhir yang sama. Dalam pandangan John High, “Sang wujud” yang merupakan “tujuan akhir” adalah konsep universal. Sehingga timbul anggapan, bahwa semua agama itu benar, dan semua ingin mensejahterakan hidup pemeluknya. Kemudian para penganut paham pluralisme di Indonesia, seperti Cak Nur (panggilan akrab Nur Kholis Majid) dan aschabnya, mencoba mencarikan justifikasi ajaran tersebut dari nas Alqur’an. Menurut mereka, setidaknya ada empat tema pokok tentang pluralisme agama didalam Alqur’an, yaitu,
  • Pengakuan Alqur’an dalam surat Albaqoroh ayat 62 terhadap eksistensi agama-agama lain. “Orang-orang yang beriman, yahudi, nasrani dan shobi’in yang percaya kepada Allah dan hari kiamat serta menjalankan amal kebajikan akan memperoleh pahala dari tuhan mereka”. Menurut Cak Nur, titik tekan ayat ini ada pada aktivitas konkrit, artinya, masing-masing agama ditantang untuk berlomba-lomba menjalankan kebaikan.
  • Manusia diberikan kebebasan didalam mempertimbangkan dan memilih agama untuk dirinya sendiri, sebab “tidak ada paksaan dalam beragama”. (Albaqoroh 256)
  • Kesatuan kenabian. Sebagaimana dijelaskan dalam Alqur’an surat As-syura ayat 13, “Dia telah mensyariatkan bagi kamu agama sebagaimana yang diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah aku wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu tegakkan agama dan jangan kamu berpecah belah didalamnya”.
  • Kesatuan pesan ketuhanan. Berpijak pada surat Annisa’ ayat 131 “Dan kepunyaan Allah lah apa yang ada dilangit dan dibumi. Dan sesungguhnya kami telah mmerintahkan orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan kepada kamu untuk bertaqwa kepada Allah”.
Cak Nur wa aschabihi berusaha memelintir ayat-ayat tersebut sebagai bukti kebenaran pandangan mereka tentang pluralisme. Tentu usaha tersebut tidak serta merta atau semudah membalikkan telapak tangan. Tetapi sayangnya Cak Nur wa aschabihi hanya mencermati dan mengkaji ayat-ayat itu saja, lupa menela’ah ayat-ayat lain yang berhubungan dengan ayat-ayat yang telah mereka kaji. Misalnya saja,
  • Surat Albaqoroh ayat 91, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kepada Alqur’an yang diturunkan oleh Allah!”. Mereka berkata, “Kami hanya beriman kepada apa-apa yang telah diturunkan kepada kami”. Dan mereka kafir terhadap Alqur’an yang diturunkan sesudahnya, sedang Alqur’an adalah kitab yang haq yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah, “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika kamu orang-orang yang beriman?”.
  • Surat Annisa’ ayat 170, “Wahai manusia!. Sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan membawa kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran kamu itu sama sekali tidak merugikan Allah). Sesungguhnya apa yang dilangit dan dibumi adalah kepunyaan Allah, dan adalah Allah dzat yang maha mengetahui lagi maha bijaksana”.
  • Surat Alan’am ayat 56, “Katakanlah (wahai Muhammad) ‘Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah. Katakanlah, ‘Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk”.
  • Surat Ali Imran ayat 19. “Sesungguhnya agama (yang diridloi) disisi Allah adalah agama islam”.
  • Surat Ali Imran ayat 85. “Barang siapa yang mencari selain islam sebagai agama, maka tidak akan diterima, dan dihari kiamatia termasuk orang yang merugi”.
Ayat-ayat Alqur’an tersebut telah memvonis kafir orang-orang yahudi dan nasrani, karena mereka tidak mau mempercayai Alqur’an dan tidak mau mengikuti ajaran yang telah dibawah oleh Nabi Muhammad saw. Artinya, Alqur’an mengakui adanya agama-agama lain selain islam. Tetapi tidak membenarkan anggapan paham pluralisme, bahwa semua agama itu benar. Karena hanya Islam-lah agama yang paling benar dan diridloi oleh Allah swt.
Tentang surat Albaqoroh ayat 256 “tidak ada paksaan dalam beragama”, adalah konsep toleransi antar agama, saling menghargai dan saling menghormati perbedaan atau prinsip orang lain tanpa mengorbankan prinsip sendiri, Sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw dalam kehidupan-Nya diantara pemeluk-pemeluk agama lain. Bukan konsep pluralisme yang menganggap semua agama benar, apalagi yang sampai mencampur adukan aqidah. Na’uzhu billahi min zhaalik.

11 comments on “NurKholis Majid dan Pluralisme

  1. klo anda merasa benar pendapat anda dengan ayat2 tersebut dan anda menyalahkan cak nur dengan ayat2 yg dikutipnya, itu juga sama saja anda tidak percaya pada al-Qur’an sebagaimana org2 yahudi yg anda justifikasi sebagai kafir… pada dasarnya setiap org dan setiap peristiwa ada ayat yg digunakan untuk mendasarinya tergantung dari keadaan yg dibahas. hanya saja kebanyakan orang terlalu suka membuat generalisasi dari hal2 spesifik. itu yg sering menjadi masalah. contoh: orang meneriakkan jihad dan peperangan pada suasana damai, atau sebaliknya orang tidak bertindak apa2 dlm suasana perang…
    anda mengatakan bahwa Islam dengan cara mengingkari ayat2 al-Qur’an (yg dikutip cak nur) di atas, sama saja anda membuktikan bahwa ternyata tidak semua org Islam adalah benar, tidak semua org kristen benar dan tidak semua org yahudi benar… hal itu sekaligus anda membuktikan bahwa tidak semua org islam salah, tidak semua org yahudi salah dan tidak semua org nasrani salah…. ini berarti meskipun anda beragama Islam, tapi Islam anda (konsep anda tentang Islam) belum tentu benar..
    sebenarnya yahudi yang dikutuk oleh al-Qur’an adalah yahudi yg salah, bukan yahudi yg benar.. kalau anda bertanya apakah yahudi ada yg benar, anda bisa bertanya kepada nabi Musa as.
    demikian pula nasrani yg dikutuk oleh Alloh adalah nasrani yg salah, bukan nasrani yg benar. kalau anda bertanya apakah ada nasrani yg benar anda bisa bertanya kepada Nabi Isa as atau Nabi Muhammad SAW yg pernah bertemu dg pendeta bernama Waroqoh bin Naufal. Ketika Nabi SAW msh 9 tahun dan diajak oleh pamannya Abu Tholib untuk berdagang ke negeri Syam, mereka menginap di rumah pendeta tersebut. Dan tahukah anda bagaimana pendeta tersebut bisa tahu bahwa Muhammad SAW kecil itu akan menjadi nabi akhir zaman? karena pendeta tersebut adalah nasrani yg benar, pendeta yg ma’rifat, bisa menangkap isyarat dari Alloh SWT. itulah ajaran yg benar. jd jika kita belum bisa mencapai derajat itu, maka kita masih di posisi Islam yg salah karena Nabi2 terdahulu semuanya pasti mencapai derajat ma’rifat. mereka bisa menangkap isyarat dari Alloh (mau’idlotan min robb). jika kita belum bisa mencapai hal itu, maka berarti kita tidak menjadi pewaris Nabi.. lha kalo kita bukan pewaris Nabi, kok kita bisa mengaku-ngaku sebagai Islam yang benar dari sisi mana??

    • kang leek sepertinya orang yang sangat pintar..saya tertarik dengan agama kang leek..agama kang leek apa ya? jangan bilang apalah artinya sebuah nama agama hehehe..kaya shakespear aja…hehe..trmksh

  2. untuk mencetuskan hukum itu perlu mempelajari lgi dri ayat2 al_quran yg lain,bukan hanya sebagian ayat saja.agar pola fikir itu tidak dangkal…dan tidak picik.karna al_quran itu hukum yg pasti dan bukti yg nyata.

  3. Saya jg sependapat dengan sampean, tetapi kenyataannya buku2 dan artikel2 merekalah yang lebih menciptakan kebencian kpd pihak lain. Org sombong adalah orang yang enggan menerima kebenaran, dan tidak ada salahnya menyombongi orng yang sombong. Dan artikel ini hanya sekedar menyampaikan ayat2 yang seharusnya juga ditelaah, agar lebih proporsional dalam berfatwa.

  4. saya sependapat dengan masyruddin..
    “Buatlah suatu artikel yg ketika di baca tidak menghasilkan kebencian kpd pihak lain, sehingga dunia ini aman”

    ayo kita mulai..
    Jika kita pandai menulis, tulislah “kabar gembira”
    Jika kita pandai bicara, bicaralah “kabar gembira”

    kabar gembira tidak membuat kebencian kepada pihak lain..

  5. kebenaran fikiran sering kali hanyalah asumsi. tapi kebenaran konkrit adalah yg bisa dirasakan dengan hati. tanpa bisa dipenjara atau dipelintir oleh kemauan pribadi (ego)

  6. tulisan anda tentang pluralisme dengan menanggapi pemikiran nurkholis majid, sy anggap terlalu dangkal, buatlah suatu artikel yg ketika di baca tidak menghasilkan kebencian kpd pihak lain, sehingga dunia ini aman………..okey thank’ so much

      • masalah memelintir ato tidak kita tidak tau to buktinya, mungkin beliau punya pemikiran atau sebuah solusi atas kondisi zaman sekarang ne,,,pi positife kan qita ne bisa rukun dlm bermasyarakat berbangsa n bernegaran,,,nek masalah iman wz cukup di dalam hati qita masing masing ae,

      • merukunkan masyarakat tidak hrs dengan cara menghalalkan segala cara bung, sampai menganggap bahwa semua agama benar segala, padahal agama lain menganggap bahwa hanya agamanya-lah yang paling benar. Kan ckp dengan toleransi beragama. ya to….!!!!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s